Melly juga menceritakan bagaimana dirinya pernah membujuk Bursah agar diskusi HUMANIKA rutin dilakukan di rumah. Di balik usulan sederhana itu, terdapat alasan yang lebih personal: ia ingin mengurangi kebiasaan Bursah pulang hingga pagi karena aktivitas organisasi dan pergaulannya dengan sesama aktivis.
Di tengah situasi politik Orde Baru, aktivitas HUMANIKA juga disebut berada dalam pengawasan aparat intelijen. Risiko tersebut tidak membuat perjalanan organisasi berhenti. Justru dari ruang-ruang sederhana itulah jaringan persahabatan dan gerakan aktivis terus berkembang.
Dalam perjalanan berikutnya, Melly sendiri kemudian terjun ke dunia politik dan menjadi anggota DPR RI dari Partai Gerindra. Hamid melihat perjalanan tersebut sebagai bagian lain dari panjangnya sejarah alumni HUMANIKA yang kemudian memasuki berbagai ruang pengabdian publik.
Pada perayaan 36 tahun HUMANIKA, Melly juga menyampaikan penghormatan kepada para senior yang telah memberikan inspirasi dan dukungan pada masa-masa awal organisasi, termasuk Hariman Siregar yang menurutnya telah memberikan rasa perlindungan kepada para aktivis HUMANIKA.
Dengan suara yang disebut Hamid terdengar penuh ketulusan, Melly mengajak generasi penerus HUMANIKA untuk tidak berhenti memperjuangkan keadilan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penutup yang merefleksikan perjalanan panjang organisasi: terus berjuang dan terus berusaha menghadirkan keadilan di negeri tercinta.
Bagi Hamid, perayaan 36 tahun HUMANIKA bukan sekadar seremoni ulang tahun. Momentum tersebut menjadi pertemuan lintas generasi yang memperlihatkan bagaimana persahabatan, gagasan dan semangat perjuangan dapat bertahan melewati perubahan zaman.
HUMANIKA telah melewati 36 tahun perjalanan. Dari ruang-ruang diskusi sederhana, rumah kontrakan, sate ayam dan lontong, hingga panggung politik nasional. Dan di balik sejarah panjang itu, ada nama Bursah Zarnubi, Melly Zarnubi, serta banyak aktivis yang ikut menjaga agar bara perjuangan tidak padam.