Jika ingin memanen juara di podium, maka bibitnya harus dirawat sejak masih berada di padepokan.
Yanto pun berharap perhatian terhadap pembinaan atlet tidak hanya muncul ketika seorang pesilat sudah berhasil meraih prestasi. Menurutnya, fase paling penting justru ketika atlet masih berada dalam proses pembentukan.
“Bibit-bibit ini harus dijaga sejak sekarang. Mereka masih dalam proses. Kalau semua pihak mau memberikan perhatian dan dukungan, kami yakin akan semakin banyak atlet Indramayu yang bisa berprestasi dan membawa nama daerah,” tutur Yanto.
Perhatian KONI terhadap perguruan seperti Bhirawa Anoraga menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan. Prestasi tidak cukup hanya diminta. Prestasi harus dipersiapkan, difasilitasi, dibina dan dikawal secara konsisten.
Padepokan pun bukan sekadar tempat anak-anak berlatih pencak silat. Di sanalah karakter ditempa. Mereka belajar bahwa menjadi juara bukan hanya tentang mengalahkan lawan, tetapi juga tentang mampu mengendalikan diri, menghormati orang lain, menerima kekalahan dan kembali bangkit setelah gagal.
Inilah nilai yang terus dijaga Bhirawa Anoraga dari generasi ke generasi.
Ilmu tidak berhenti pada satu generasi. Pengalaman tidak hilang bersama mereka yang lebih dahulu berlatih. Semuanya diwariskan kepada generasi berikutnya agar mata rantai pembinaan tetap hidup dan semakin kuat.
Sebab perguruan yang besar bukan hanya yang mampu melahirkan juara hari ini, tetapi yang mampu memastikan selalu ada calon juara untuk hari esok.
Di titik inilah sinergi antara perguruan, pelatih, orang tua, atlet, IPSI dan KONI menjadi sangat menentukan. Potensi besar tidak boleh dibiarkan tumbuh sendirian. Bibit unggul harus mendapatkan ruang, pembinaan dan perhatian agar tidak berhenti sebagai sekadar potensi.
Kunjungan Ketua KONI ke Bhirawa Anoraga menjadi pesan bahwa perjuangan dari bawah harus mendapatkan tempat dalam pembangunan olahraga Indramayu.
Jangan menunggu seorang atlet menjadi juara untuk kemudian memberinya perhatian. Justru ketika ia belum dikenal, ketika ia masih jatuh-bangun, ketika medali belum ada di tangannya—di situlah dukungan paling dibutuhkan.
Karena prestasi sejatinya bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium.
Prestasi adalah tentang siapa yang bersedia menjalani proses paling panjang untuk sampai ke sana.
Dari padepokan mereka belajar berjuang. Dari gelanggang mereka belajar bertanding. Dari kekalahan mereka belajar bangkit. Dan suatu hari, dari podium mereka diharapkan berdiri membawa medali, membawa kehormatan, sekaligus membawa nama besar Indramayu.
Sebab podium hanyalah tempat untuk memetik hasil. Padepokanlah tempat seorang juara dilahirkan.