daerah

AHWA Titip Pesan Tegas: Rais Aam KH Miftachul Akhyar Diminta Rangkul Semua Potensi NU, Rawat Organisasi Bersama

Senin, 31 Agustus 2026 | 21:37 WIB

Gertak.id | Jombang – Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026–2031 pada 30 Agustus 2026 bukan sekadar kelanjutan kepemimpinan. Di balik keputusan tersebut, tersimpan amanat besar agar Nahdlatul Ulama semakin solid, inklusif, dan mampu merangkul seluruh potensi yang dimilikinya.

Keputusan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar Ke-35 NU di Jombang sekaligus menegaskan harapan agar kepemimpinan KH Miftachul Akhyar mampu memperkuat tradisi dakwah yang sejuk, dialogis, persuasif, sekaligus memberikan perhatian serius terhadap penguatan ekonomi umat.

KH Anwar Iskandar mengungkapkan, AHWA memberikan amanat penting kepada Rais Aam terpilih agar tidak meninggalkan potensi-potensi yang ada di tubuh NU.

"Para Ahlul Halli wal Aqdi semuanya, bahwa kepada Rais Aam terpilih diamanatkan untuk mengajak potensi-potensi yang ada di dalam Nahdlatul Ulama," jelas KH Anwar Iskandar, Minggu, 30 Agustus 2026.

Ia menegaskan, seluruh elemen NU harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam perjalanan organisasi ke depan.

"Dalam bentuk apa pun, untuk ke depan bersama-sama merawat dan mengurus Nahdlatul Ulama secara bersama-sama," tambahnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu pekerjaan penting bagi kepemimpinan periode 2026–2031. Merangkul seluruh potensi bukan hanya menyatukan perbedaan pandangan, tetapi juga memastikan seluruh kekuatan NU dapat bergerak dalam satu arah untuk menjaga kebesaran organisasi.

Dakwah Jangan Mengejek, Tapi Mengajak

Sosok KH Miftachul Akhyar selama ini dikenal mengedepankan pendekatan dakwah yang teduh dan persuasif. Corak tersebut dinilai relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat yang semakin kompleks dan membutuhkan keteladanan dari para pemimpin agama.

Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, menilai periode kedua kepemimpinan Kiai Miftach berpotensi semakin memperkuat corak dakwah yang dialogis dan persuasif.

"Hal itu terlihat jelas dalam berbagai pidato dan ceramah yang beliau sampaikan. KH Miftachul Akhyar sering sekali mengingatkan kita agar dalam berdakwah jangan menempuh cara-cara yang tidak baik tapi harus lebih sejuk, dialogis dan persuasif," ujar Anwar Abbas.

Pendekatan tersebut menjadi modal penting dalam menjaga harmoni sosial. Dakwah tidak ditempatkan sebagai ruang untuk mempertajam perbedaan, melainkan sebagai jalan untuk mengajak, membangun kesadaran, dan merawat persaudaraan.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan KH Miftachul Akhyar yang menekankan bahwa sifat dakwah adalah mengajak, bukan mengejek.

Ekonomi Umat Jadi Perhatian Serius

Halaman:

Terkini