daerah

Demi Anak, Yuni Bertaruh Hidup dari Asap Tungku Serabi di Pinggir Jalan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:53 WIB

Gertak.id | INDRAMAYU – Saat langit masih gelap dan sebagian besar warga masih terlelap, Yuni (41) sudah memulai pertarungan hidupnya. Di sebuah lapak sederhana di tepi Jalan Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, perempuan tangguh itu menggantungkan harapan keluarganya dari setiap serabi yang matang di atas tungku tradisional.

Tidak ada toko besar. Tidak ada modal puluhan juta. Yang dimiliki Yuni hanyalah cetakan tanah liat, bara kayu, dan tekad yang tak pernah padam untuk memastikan kedua anaknya tetap bisa sekolah.

Setiap dini hari, ia bangun lebih awal menyiapkan adonan. Asap dari tungku yang mengepul menjadi saksi bisu perjuangannya mencari nafkah. Tangan yang tak pernah berhenti bekerja itu terus menuangkan adonan demi adonan, berharap pembeli datang dan dagangannya habis terjual.

Bagi sebagian orang, serabi mungkin hanya jajanan tradisional. Namun bagi Yuni, serabi adalah sumber kehidupan. Dari hasil jualan itulah kebutuhan rumah tangga dipenuhi, biaya sekolah dibayarkan, dan masa depan anak-anaknya diperjuangkan.

Di tengah harga bahan baku yang terus merangkak naik, keuntungan yang didapat sering kali semakin tipis. Belum lagi ketika hujan turun atau cuaca buruk datang, pembeli berkurang drastis dan dagangan tak jarang tersisa hingga siang hari.

Namun keadaan sulit itu tidak membuat Yuni menyerah. Ia sadar, berhenti berjualan berarti mempertaruhkan masa depan keluarganya. Karena itu, sesulit apa pun kondisi yang dihadapi, lapaknya tetap buka setiap pagi.

“Kadang habis, kadang masih sisa. Alhamdulillah yang penting ada rezeki buat anak,” tutur Yuni dengan mata yang menyimpan harapan besar untuk masa depan buah hatinya.

Dengan harga mulai Rp2.000 per buah, Yuni berusaha menjaga agar dagangannya tetap terjangkau masyarakat. Ia juga mempertahankan cara memasak tradisional menggunakan cetakan tanah liat dan bara kayu agar cita rasa khas serabinya tidak hilang ditelan zaman.

Perjuangan Yuni adalah potret nyata kehidupan masyarakat kecil yang setiap hari berjuang di tengah tekanan ekonomi. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada kemewahan, hanya kerja keras yang dilakukan tanpa mengenal lelah.

Di balik kepulan asap tungku yang setiap pagi membumbung ke udara, tersimpan doa seorang ibu yang sederhana: dagangannya laku, anak-anaknya bisa terus belajar, dan keluarganya dapat menjalani hidup dengan lebih baik.

Kisah Yuni membuktikan bahwa kemiskinan tidak pernah mampu mengalahkan keteguhan hati seorang ibu. Selama tungku itu masih menyala, selama tangan itu masih sanggup bekerja, Yuni akan terus berjuang, menukar peluh dan lelah demi masa depan anak-anak yang menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan.

Terkini