Gertak.id | Indramayu - Suasana Car Free Night yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi masyarakat untuk berjalan kaki justru menuai sorotan. Pasalnya, area yang semestinya bebas dari kendaraan terlihat dipenuhi sepeda listrik dan kereta mini yang bebas berlalu-lalang di tengah padatnya pengunjung.
Pemandangan tersebut memicu keluhan warga. Banyak pengunjung menilai keberadaan sepeda listrik dan kereta mini bertentangan dengan tujuan utama penyelenggaraan Car Free Night, yakni memberikan ruang publik yang aman bagi pejalan kaki tanpa gangguan kendaraan.
Di sejumlah titik, pengunjung terlihat harus mengalah dan menepi saat kendaraan melintas. Kondisi itu membuat kenyamanan masyarakat berkurang, terutama bagi keluarga yang membawa anak-anak maupun lansia yang ingin menikmati suasana malam dengan tenang.
"Kami datang ke Car Free Night untuk jalan santai bersama keluarga, bukan untuk menghindari sepeda listrik dan kereta mini yang lalu-lalang. Kalau kendaraan masih bebas masuk, lalu di mana letak bebas kendaraannya?" ujar Andi, salah seorang pengunjung.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya yang menilai pengawasan terhadap kendaraan di area Car Free Night masih lemah. Mereka khawatir keberadaan kendaraan tersebut dapat memicu insiden yang membahayakan keselamatan pengunjung.
"Anak-anak jadi tidak leluasa bermain karena harus waspada dengan kendaraan yang melintas. Kami khawatir terjadi tabrakan atau kecelakaan di tengah kerumunan," kata Siti, warga yang hadir bersama keluarganya.
Menurut warga, konsep Car Free Night seharusnya dijalankan secara konsisten tanpa memberikan ruang bagi kendaraan apa pun yang berpotensi mengganggu aktivitas pejalan kaki. Apalagi saat jumlah pengunjung membludak, risiko kecelakaan dinilai semakin tinggi.
"Aturannya harus jelas. Jangan hanya mobil dan motor yang dilarang, sementara sepeda listrik dan kereta mini justru memenuhi lokasi. Ini terkesan tebang pilih dalam penegakan aturan," ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Selain persoalan keselamatan, masyarakat juga menyoroti adanya aktivitas penyewaan kendaraan yang semakin menjamur di area kegiatan. Mereka menilai ruang publik yang semestinya digunakan untuk bersantai perlahan berubah menjadi arena lalu lintas kendaraan sewaan.
"Kalau tujuannya memberikan ruang bagi pejalan kaki, seharusnya seluruh kendaraan dilarang masuk. Jangan sampai masyarakat yang berjalan kaki malah tersingkir di area yang seharusnya menjadi hak mereka," ujar Rudi, pengunjung lainnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan penyelenggara segera melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Car Free Night. Penertiban kendaraan dinilai penting agar tujuan kegiatan benar-benar tercapai dan tidak hanya menjadi slogan semata.
"Jangan sampai Car Free Night berubah menjadi arena bisnis kendaraan sewaan. Yang dirugikan akhirnya masyarakat karena kehilangan kenyamanan dan rasa aman saat menikmati kegiatan tersebut," tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
Masyarakat berharap kegiatan yang digelar setiap pekan itu dapat kembali pada tujuan awalnya, yakni menyediakan ruang publik yang aman, nyaman, dan sepenuhnya berpihak kepada pejalan kaki. Sebab jika kendaraan masih bebas berkeliaran, maka esensi Car Free Night patut dipertanyakan.