Pemalang — Tradisi ruwat bumi atau sedekah bumi kembali digelar dengan meriah oleh masyarakat Desa Desa Cawet, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang pada Senin (18/5/2026). Kegiatan tahunan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan keselamatan desa tersebut berlangsung penuh antusias dan kebersamaan
Desa Cawet yang dipimpin oleh itu kembali menunjukkan kekompakan masyarakatnya melalui gelaran budaya tahunan yang selalu dinantikan warga.
Mengusung slogan “Cawet Ku, Cawet Mu Cawet Kita, Cawet Bersama”, acara sedekah bumi tahun ini dipadati warga dari tiga dusun yang ada di Desa Cawet. Mulai dari anak-anak, pemuda hingga para tokoh masyarakat tampak tumpah ruah memadati lokasi acara untuk ikut memeriahkan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Acara kemeriahan terlihat sejak dimulainya arak-arakan gunungan hasil bumi masyarakat yang diikuti dengan penuh semangat. Berbagai hasil pertanian seperti padi, jagung, sayuran, buah-buahan hingga aneka hasil kebun disusun membentuk gunungan sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Antusiasme warga dari tiga dusun terlihat begitu luar biasa. Mereka rela berdesakan di sepanjang jalan desa demi menyaksikan kemeriahan arak-arakan budaya tersebut. Suasana semakin semarak dengan iringan musik tradisional serta kekompakan warga yang membawa semangat gotong royong dan kebersamaan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Forkopimcam Kecamatan , tokoh masyarakat, tokoh agama, perangkat desa, serta tamu undangan lainnya yang ikut menyaksikan rangkaian acara sedekah bumi Desa Cawet.
Tak hanya itu, puncak acara juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menghadirkan dalang kondang dari Pekalongan. Dalam halaman tersebut, Ki Dalang membawakan lakon “Gatotkaca Wisuda” yang sarat pesan moral tentang perjuangan, tanggung jawab, dan kehormatan.
Pagelaran wayang kulit itu pun sukses menyedot perhatian masyarakat. Ribuan warga tampak bertahan hingga larut malam untuk menikmati cerita yang dibawakan dengan api dan penuh makna.
Kepala Desa mengatakan bahwa kegiatan sedekah bumi ini bukan sekedar hiburan rakyat, melainkan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus upaya menjaga budaya leluhur agar tetap lestari.
“Tujuan acara ini adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga nyuri nguri budaya leluhur yang telah diwariskan kepada kita, sehingga wajib untuk terus kita lestarikan,” ujar Taufik Saleh.
Tradisi sedekah bumi ini diharapkan mampu terus mempererat tali persaudaraan antarwarga serta menjadi pengingat akan pentingnya menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.