daerah

TOLONG PAK GUBERNUR, JANGAN TUNGGU MAYAT PULANG! Kusnia, Warga Indramayu Disekap di China — Diduga Dijual, Diperkosa, Disiksa Tanpa Henti

Selasa, 31 Maret 2026 | 17:48 WIB

Gertak.id | Indramayu Ini bukan lagi sekadar berita. Ini alarm keras bahwa negara sedang diuji—dan bisa gagal jika terus diam.

Kusnia, perempuan dari Desa Jambak, Kecamatan Cikedung, bukan merantau untuk masa depan. Ia diduga dijerat, dikirim, lalu dijual dalam praktik kotor “pengantin pesanan” lintas negara.

Pesan yang ia kirim bukan basa-basi. Itu jeritan orang yang nyawanya terancam. Ia meminta diselamatkan—sekarang, bukan nanti.

Paspor disita. Identitas dirampas. Ia hidup dalam kurungan tanpa jeruji, tapi tak bisa lari. Setiap geraknya diawasi, setiap langkahnya dikendalikan.

Yang lebih biadab, ia mengaku mengalami kekerasan seksual berulang. Tubuhnya dipaksa tunduk, martabatnya diinjak, diperlakukan seperti barang yang sudah dibeli dan bebas dipakai.

Ini bukan pernikahan. Ini perdagangan manusia paling brutal—perbudakan modern yang terjadi di depan mata, tapi nyaris tanpa respons cepat.

Nama Dedi Mulyadi dipanggil dalam keputusasaan. Bukan untuk sekadar tahu, tapi untuk bertindak. Untuk mengguncang sistem yang terlalu sering lambat saat rakyatnya sekarat.

Semua mata kini mengarah ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan aparat hukum. Ini bukan waktunya rapat berlarut. Ini waktunya evakuasi, tekanan diplomatik, dan penyelamatan nyata.

Indramayu kembali tercatat—lagi dan lagi—sebagai ladang empuk sindikat. Pertanyaannya: sampai kapan dibiarkan? Siapa yang dilindungi? Kenapa korban terus berjatuhan?

Jika hari ini Kusnia tidak ditarik pulang, maka kita sedang menyaksikan satu warga negara Indonesia dihancurkan perlahan—dalam diam yang memekakkan.

Dan jika negara tetap lamban, maka yang runtuh bukan hanya hidup Kusnia—tapi juga harga diri bangsa di hadapan dunia.

Terkini