daerah

Relakan Antrean Huntara Demi Penyintas yang Lebih Terisolir

Rabu, 7 Januari 2026 | 23:59 WIB

(NAMA MEDIA) — Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera pada akhir November 2025 lalu meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga. Tiga provinsi terdampak, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah paling parah mengalami kerusakan.

Berbagai bantuan terus berdatangan, mulai dari logistik, sandang, hingga penyediaan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sekitar 178.479 unit rumah mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

Di tengah keterbatasan dan duka, muncul kisah kemanusiaan yang menyentuh hati. Kisah itu dibagikan oleh konten kreator sekaligus relawan kemanusiaan, Fahri Ibrochim, melalui akun Instagram pribadinya, @fahriibrochim.

Mengalah Demi Sesama Korban

Dalam unggahan videonya, Fahri menceritakan pertemuannya dengan seorang warga Kampung Suka Jadi, Aceh Tamiang, yang memilih merelakan antrean huntara demi penyintas lain yang dinilai kondisinya lebih parah.

“Ada satu ibu-ibu yang saya tanya, ‘Bu, apakah sudah terdaftar dalam orang yang akan mendapatkan rumah sementara atau huntara yang kemarin diresmikan oleh Bapak Presiden?’ Kemudian ibu itu menjawab, ‘Sudah, kami sudah dapat,’” ujar Fahri, dikutip dari video yang diunggah Rabu, 7 Januari 2026.

Fahri menyebutkan bahwa warga tersebut berada di urutan ke-700 dalam daftar penerima huntara saat sang suami mendaftarkan keluarga mereka.

Akses Terputus, Bantuan Sulit Masuk

Namun alih-alih menerima haknya, warga tersebut justru memilih untuk mengalah. Menurut pengakuan Fahri, ibu tersebut menyampaikan bahwa masih banyak penyintas lain yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan.
“‘Kami lebih mendahulukan saudara kami di titik lain yang mereka juga parah,’” tutur Fahri menirukan perkataan warga tersebut.

Ketika Fahri mempertanyakan maksud kondisi yang lebih parah, warga itu menjelaskan bahwa ada penyintas lain yang hingga kini masih terisolasi akibat akses jalan terputus.

“‘Mereka lebih berhak mendapatkan huntara lebih dulu daripada kami. Kalau kami yang hancur itu hanya rumah dan harta benda, tapi akses ke tempat kami masih bisa dikunjungi relawan,’” lanjutnya.

Pernyataan itu membuat Fahri terdiam dan terkejut. Menurutnya, sikap saling mendahulukan di tengah penderitaan adalah cerminan nilai kemanusiaan yang luar biasa.

“Walaupun mereka sama-sama korban banjir, rumah hilang, harta hilang, mereka masih menganggap ada orang lain yang lebih membutuhkan,” ucap Fahri.

Pembangunan Huntara Dikebut

Halaman:

Terkini