Di tengah puing-puing bencana dan ketidakpastian masa depan, sepiring Nasi Padang menjadi simbol bahwa harapan masih ada. Kebahagiaan sederhana itu menjadi bukti bahwa kemanusiaan tetap hidup, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun.
Bagi pengungsi di Aceh Tamiang, momen kecil seperti ini bukan hanya soal makan, melainkan tentang rasa dihargai, diperhatikan, dan diingat sebagai manusia—bukan sekadar angka dalam laporan bencana.*