daerah

Fenomena ‘Gunung Menangis’ di Lombok Timur: Air Terjun Dadakan Muncul di Lereng Sembalun, Warga Khawatir Ancaman Banjir Bandang Terulang

Rabu, 10 Desember 2025 | 16:11 WIB

Ia menambahkan bahwa hujan yang mengguyur kawasan Sembalun pada sore hari itu hanya berlangsung sekitar dua jam — namun cukup untuk menyebabkan luapan dan genangan di sejumlah titik.

“Menurut analisis saya, faktor utamanya adalah intensitas hujan tinggi, ditambah alih fungsi lahan yang makin masif, baik untuk pembangunan vila maupun perkebunan,” ungkapnya.


Ancaman Bencana yang Pernah Terjadi: Mengingat Banjir 2012

Fenomena 'gunung menangis' ini membuat warga teringat pada bencana banjir bandang pada Maret 2012 silam. Ketika itu, sedikitnya seribu warga harus diungsikan dari berbagai desa di Lombok Timur.

Banjir terparah terjadi di Desa Belanting, Kecamatan Sambelia, di mana sekitar 700 jiwa dievakuasi akibat rumah mereka diterjang banjir besar yang membawa material batu dan lumpur dari luapan Sungai Putik.

Sejumlah desa lain yang berada di kaki Gunung Rinjani juga terdampak berat. Di Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung, sedikitnya 200 warga harus dievakuasi karena luapan sungai yang berhulu di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani.

Trauma akan kejadian itu masih membekas hingga kini — itulah sebabnya fenomena air terjun dadakan yang muncul tiba-tiba memicu kekhawatiran warga.


Alih Fungsi Lahan Diduga Perburuk Kondisi Lereng

Sejumlah pemerhati lingkungan menilai bahwa perubahan bentang alam akibat proyek vila, homestay, serta perluasan perkebunan bisa memperparah kondisi lereng.

Berkurangnya daya resap tanah menyebabkan air hujan yang biasanya mengalir pelan kini langsung meluncur deras dari permukaan lereng.

Rijal menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu melakukan kajian ulang terhadap penggunaan lahan di kawasan tersebut untuk meminimalkan risiko bencana.

“Kawasan Sembalun ini kawasan rawan. Kalau alih fungsi lahan terus dibiarkan, fenomena seperti ini bukan hanya berulang, tapi bisa berubah jadi bencana besar,” tegasnya.


Warga Berharap Ada Kajian Serius dan Penataan Ulang

Warga berharap pemerintah setempat segera mengambil langkah mitigasi, termasuk penataan kembali kawasan perbukitan, penanaman kembali (reboisasi), serta pengawasan ketat terhadap pembukaan lahan.

“Yang penting jangan sampai kejadian 2012 terulang lagi. Warga cemas, tapi mereka hanya bisa berharap pemerintah serius menangani ini,” ucap Rijal menutup keterangannya.

Fenomena ‘gunung menangis’ ini menjadi pengingat penting bahwa perubahan lingkungan tak bisa dipandang sepele, terutama bagi wilayah yang berada di kaki gunung dan rawan longsor serta banjir bandang.

.

Halaman:

Terkini