daerah

Warga Subulussalam Terus Mengantre Berhari-hari Hadapi Kelangkaan BBM, Harga Enceran Tembus Rp 30 Ribu per Liter

Sabtu, 6 Desember 2025 | 16:32 WIB

Gertak.id – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Subulussalam, Aceh, memasuki minggu pertama tanpa kepastian kapan akan berakhir. Ribuan warga dari berbagai kecamatan terus mengantre berjam-jam bahkan hingga berhari-hari demi mendapatkan BBM untuk kebutuhan transportasi dan aktivitas harian.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean motor dan mobil mengular panjang di sejumlah SPBU, sebagian warga bahkan memilih bermalam di lokasi agar tidak kehilangan giliran. Kondisi ini makin memukul masyarakat yang sebelumnya sudah terdampak banjir besar yang melanda wilayah tersebut akhir November lalu.


Transportasi Sudah Normal, Dua Pemasok BBM Mulai Masuk Setiap Hari, Tapi Kelangkaan Tak Kunjung Berakhir

Yang membuat warga semakin bingung dan geram adalah fakta bahwa akses jalan utama sudah kembali normal pasca banjir. Dua pemasok galon BBM di Kota Subulussalam juga dilaporkan telah kembali beroperasi seperti biasa, bahkan hampir setiap hari masuk membawa pasokan.

Namun meski pasokan tampak normal, BBM di tingkat konsumen tetap langka.

Sebagian warga menilai ada kejanggalan dalam proses distribusi, sebab di tengah kelangkaan di SPBU, penjualan eceran justru marak dengan harga yang sangat tinggi—menembus Rp 30.000 per liter, jauh di atas harga resmi.

Situasi ini memperkuat dugaan bahwa terjadi penyelewengan distribusi di tingkat tertentu.


Suara Warga: “Setiap hari masuk, tapi bensin tetap langka. Sumber masalahnya di mana?”

Keluhan warga kian hari kian menguat. Salah seorang warga yang telah mengantre sejak subuh mengaku kebingungan atas situasi yang tidak masuk akal ini.

“Dimana sumber kelangkaan BBM di Kota Subulussalam ini, sementara hampir sudah tiap hari masuk?” ujarnya dengan nada geram.

Bagi warga yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja, berdagang, dan mengakses fasilitas penting, kelangkaan ini membuat aktivitas mereka lumpuh. Banyak pedagang keliling memilih tidak berjualan, sementara sejumlah warga kesulitan mengantar anak ke sekolah atau pergi bekerja.

Harga Melonjak, SPBU Kewalahan, Warga Desak Penegak Hukum Turun Tangan

Kelangkaan BBM ini tidak hanya berdampak pada antrean panjang, tetapi juga menyebabkan melonjaknya harga di tingkat pengecer. Penjual eceran yang memanfaatkan situasi menjual BBM dengan harga tidak wajar sehingga memperburuk tekanan ekonomi warga.

Sejumlah warga meminta penegak hukum—baik kepolisian, pemerintah kota, maupun instansi terkait lainnya—segera turun tangan melakukan investigasi atas dugaan penyimpangan distribusi.

Masyarakat menilai, bila pasokan masuk setiap hari namun tidak tersedia di SPBU, maka harus ada pihak-pihak tertentu yang bertanggung jawab.

“Kalau tidak ada masalah di jalur pasokan, berarti ada yang tidak beres di distribusi. Harus diusut,” ujar seorang warga lainnya.


Harapan Warga: Pemerintah Harus Hadir dan Bertindak Cepat

Masyarakat Subulussalam kini hanya berharap pemerintah segera menemukan akar persoalan dan menindak tegas pihak-pihak yang menyebabkan krisis BBM berkepanjangan ini.

Warga mendesak:

Halaman:

Terkini