daerah

Kisah Pilu Pasangan Lansia di Lebak Bertahan di Tengah Ancaman Rumah Runtuh

Senin, 6 Oktober 2025 | 05:53 WIB

Lebak, Gertak.id — Di Kampung Pasir Ipis, Desa Kaduagung Barat, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, berdiri sebuah rumah reyot yang nyaris roboh. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, tiang penyangganya sudah keropos, dan atap bocor di berbagai sudut.

Setiap kali angin bertiup kencang, suara kayu berderak seperti tanda bahaya. Di dalam rumah itu, pasangan lansia Juned dan Saniti menjalani hari-hari mereka dengan hati waswas. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menjadi sumber ketakutan.

“Kalau hujan atau angin kencang, kami pasti ngungsi ke rumah tetangga. Takut ketimpa reruntuhan,” ujar Saniti, Minggu (5/10/2025).

Suaranya lirih, matanya berkaca-kaca. Ia sudah tak ingat kapan terakhir kali bisa tidur nyenyak tanpa dihantui rasa cemas. Dua puluh tahun sudah mereka tinggal di rumah itu—dua puluh tahun menanti uluran tangan yang tak kunjung datang.

“Sedih, Pak. Sedih sekali. Rasanya hati hancur, tapi mau bagaimana lagi,” ucapnya sambil menyeka air mata.

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga kecil ini tak mampu berbuat banyak. Juned sudah lama tidak bisa bekerja karena sakit dan usia yang menua. Sementara Saniti hanya sesekali menjadi buruh tani di sawah orang, dengan upah yang tak seberapa.

“Saya cuma kuli ke sawah, nandur, ngoyos, ngegebot punya orang. Kalau suami sudah enggak kerja apa-apa,” tutur Saniti.

Jangankan memperbaiki rumah, untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka kerap kebingungan. Namun harapan tak pernah padam. Beberapa kali Saniti mengajukan bantuan perbaikan rumah kepada pemerintah, tetapi hasilnya nihil.

“Cuma difoto-foto doang, Pak. Pernah dimintai Rp50 ribu, pernah juga Rp30 ribu buat berkas. Padahal kami enggak punya uang,” katanya getir.

Satu-satunya bantuan yang pernah diterima hanyalah BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) senilai Rp400 ribu setiap tiga bulan. Jumlah itu tentu jauh dari cukup untuk menopang kebutuhan hidup dua orang lanjut usia.

Meski hidup dalam keterbatasan, Saniti dan Juned tetap bertahan dengan sisa tenaga dan doa.

Saya cuma berharap bisa hidup tenang sampai ajal menjemput, tidak lagi ketakutan kalau rumah ini roboh,” ujarnya pelan, menunduk menatap lantai bambu yang mulai berlubang.

Kisah mereka menyentuh hati warga sekitar. Erawati (27), tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah itu, mengaku sering melihat pasangan lansia tersebut mengungsi saat hujan deras melanda.

“Kasihan sekali, rumahnya seperti mau roboh. Kalau hujan, mereka ngungsi ke rumah tetangga. Kami bantu sebisa mungkin, tapi kami juga terbatas,” katanya.

Ia berharap pemerintah maupun pihak dermawan mau turun tangan membantu.

“Kalau dibiarkan, rumah itu bisa ambruk kapan saja. Kami takut terjadi apa-apa,” ujarnya.

Kisah Saniti dan Juned bukan sekadar potret kemiskinan, melainkan jeritan sunyi yang nyaris tak terdengar di tengah gegap gempita pembangunan. Dua puluh tahun mereka menunggu—dua puluh tahun berharap ada tangan yang peduli. Kini, mereka hanya ingin satu hal sederhana: hidup tenang di rumah yang tak lagi membuat mereka takut akan maut.

 

Catatan Redaksi:

Kisah diatas menjadi pengingat bahwa di tengah derap pembangunan dan program bantuan sosial, masih ada warga yang luput dari perhatian. Pemerintah daerah, khususnya dinas terkait seperti Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Lebak, diharapkan dapat segera melakukan peninjauan dan memberikan solusi nyata bagi pasangan lansia tersebut.

Kepedulian sosial bukan hanya soal angka di laporan, tetapi tentang memastikan setiap warga negara—terutama yang lanjut usia dan tidak mampu—dapat hidup layak dan aman di rumahnya sendiri.

---

Disclaimer:

Berita ini sebelumnya telah tayang di Media Satelitnews. Rilis berita ini bersumber dari laporan jurnalis Mulyana (Satelitnews), dan ditayangkan kembali oleh Gertak.id untuk tujuan penyebarluasan informasi publik.

 

 

Terkini