daerah

Suara dari Pogoma: Kisah Pilu Para Pengungsi di Tengah Bayang-Bayang Operasi Militer

Kamis, 7 Agustus 2025 | 12:21 WIB
Foto : istimewa

Nabire, Gertak.id – Di balik tenangnya langit Papua, ada duka yang mengendap dalam sunyi. Di sebuah sudut pengungsian di Nabire, kisah pilu datang dari Pogoma, sebuah kampung yang kini berubah wajah—dari tanah damai menjadi wilayah operasi militer. Kisah itu diceritakan oleh Mama Yomi Murib, salah satu pengungsi yang kini menetap sementara di Nabire.


Kepada jurnalis Gertak.id, Mama Yomi mengisahkan kehidupannya sebelum konflik bersenjata hadir di kampung halamannya.


-


"Dulu kami tidak tahu apa itu militer. Kami juga tidak tahu bunyi tembakan senjata. Kami hanya tahu hutan, sungai, dan tanah yang kami rawat bersama. Kami hidup penuh sukacita dan damai," tutur Mama Yomi dengan mata berkaca-kaca.


Namun semua berubah. Suatu hari, Pogoma yang teduh dihantam konflik. Warga dipaksa mengungsi, meninggalkan rumah, ladang, gereja, dan sejarah mereka sendiri. Kini, mereka hidup di tanah pengungsian tanpa kepastian.


"Kami berjalan tanpa arah. Di bawah langit yang tak lagi ramah, kami menggendong mimpi yang kini rapuh," ujar Mama Yomi, lirih.


Kondisi para pengungsi sangat memprihatinkan. Anak-anak tinggal dalam keterbatasan, orang tua kehilangan sumber penghidupan. Harapan menjadi barang mahal di tengah situasi yang terus memburuk.


Warga menyampaikan keprihatinan atas kondisi kampung mereka yang berubah menjadi zona konflik. Tempat ibadah dijadikan pos militer, rumah-rumah ditinggalkan, dan suara damai digantikan oleh dentuman senjata.


-



"Kami tidak minta hidup mewah. Kami hanya ingin damai, tanpa darah dan resah. Tapi tanah kami sendiri kini menolak kami pulang," ucapnya.


Dei Murib, seorang pemuda asal Pogoma yang kini turut mengungsi, menceritakan bahwa banyak warga yang kehilangan arah hidup. "Tuhan, kapan kami bisa pulang ke Pogoma?" tulisnya dalam catatan pribadinya, sembari berharap agar doa-doa mereka dikabulkan.


Kisah ini bukan hanya tentang pengungsian. Ini tentang kehilangan identitas, tanah air, dan hak untuk hidup dalam damai. Masyarakat berharap pemerintah dan semua pihak membuka mata dan hati terhadap situasi kemanusiaan yang dialami oleh warga Pogoma.


"Papua wene janyo o nenggam kienak" – Papua juga adalah bagian dari negeri ini. Biarkan damai kembali tumbuh di bumi Cenderawasih.

Terkini