Pekalongan – Proyek preservasi Jalan Provinsi yang membentang dari Kecamatan Wiradesa hingga Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, tengah menjadi sorotan publik. Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp33,3 miliar itu dinilai masih menyisakan banyak persoalan, mulai dari minimnya sosialisasi hingga kualitas pekerjaan yang dianggap belum maksimal.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa meskipun pekerjaan perbaikan sudah dimulai, masih banyak titik jalan yang berlubang serta bergelombang belum ditangani secara menyeluruh. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna jalan karena berpotensi membahayakan keselamatan.
Preservasi jalan sendiri merupakan kegiatan pemeliharaan untuk menjaga agar jalan tetap berfungsi dengan baik. Hal ini meliputi pemeliharaan rutin, berkala, rehabilitasi hingga rekonstruksi. Namun, realisasi di lapangan dianggap belum sesuai harapan masyarakat.
Ketua Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (APPI) Kabupaten Pekalongan, Yuliarto MW, menyampaikan bahwa pihaknya mendukung proyek peningkatan jalan tersebut. Namun, ia menyayangkan kurangnya keterlibatan warga dalam proses awal pekerjaan.
“Kami sangat mendukung pembangunan jalan ini, tapi banyak warga dan pedagang yang mengeluh karena tidak ada sosialisasi sebelumnya, terutama di Desa Gumawang, Kecamatan Wiradesa. Padahal informasi semacam ini penting agar masyarakat bisa bersiap,” jelasnya.
Hal senada diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum LSM Sayap Amanah Nusantara (SANRA), Ali Rosidin, usai melakukan peninjauan langsung di lokasi proyek, mulai dari Kelurahan Gumawang hingga Bojong Lor.
“Masih banyak jalan berlubang dan bergelombang yang belum diperbaiki. Sangat disayangkan, proyek sebesar Rp33,3 miliar hanya untuk tambal sulam. Kenapa tidak sekalian dicor beton saja agar lebih tahan lama?” ujarnya kepada media pada Minggu (3/8/2025).
Sejumlah pedagang di sepanjang ruas jalan juga menyampaikan keluhan akibat kurangnya koordinasi awal dari pihak pelaksana proyek. Mereka mengaku merasa dirugikan karena aktivitas dagang mereka terganggu secara tiba-tiba.
“Kami kaget, tahu-tahu tempat kami jualan dikeruk untuk pelebaran bahu jalan. Tidak ada pemberitahuan. Kalau kami tahu, mungkin kami bisa berhenti jualan sementara. Tapi ini kami sudah terlanjur belanja dan akhirnya barang dagangan harus dibuang,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Pedagang berharap ke depan ada komunikasi yang lebih baik antara kontraktor dan warga agar tidak menimbulkan kerugian di tengah masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Supriyanto, Kasi Bina Marga Provinsi JawaTengah , menyatakan bahwa pihaknya berencana melakukan sosialisasi kepada warga sebelum proyek berlanjut ke tahap berikutnya.
“Kami memang akan melakukan sosialisasi kepada warga, khususnya di Desa Gumawang. Harapannya, warga bisa turut memberi masukan agar proyek ini bisa berjalan lancar dan tidak merugikan pihak mana pun,” ungkapnya.