Gertak.id | INDRAMAYU — Juara tidak lahir ketika medali dikalungkan. Juara lahir jauh sebelumnya—di padepokan, di atas matras, dari latihan yang berulang, tubuh yang berkeringat, mental yang ditempa dan keberanian untuk terus berdiri setiap kali terjatuh.
Di tempat-tempat seperti itulah masa depan olahraga Indramayu sesungguhnya sedang dibangun.
Semangat tersebut tergambar dalam kunjungan Ketua KONI Kabupaten Indramayu, H. Yogi Kurniawan, ke PS Bhirawa Anoraga. Kehadiran Ketua KONI di tengah proses latihan bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi menjadi bagian dari perhatian terhadap pembinaan atlet yang tumbuh dari akar rumput.
Sebab, tidak adil jika prestasi hanya dituntut ketika pertandingan tiba, sementara proses panjang di belakangnya luput dari perhatian.
Di padepokan, para pesilat muda Bhirawa Anoraga ditempa sejak usia dini. Mereka tidak hanya belajar teknik dan strategi bertanding, tetapi juga disiplin, keberanian, sportivitas, ketahanan mental dan tanggung jawab.
Satu gerakan diperbaiki. Satu kesalahan dievaluasi. Satu kelemahan dikuatkan. Begitu seterusnya.
Tidak ada jalan pintas.
Bhirawa Anoraga memilih membangun juara dari proses, bukan mengejar juara secara instan.
Pelatih PS Bhirawa Anoraga, Yanto, mengatakan proses pembinaan membutuhkan waktu, ketekunan dan pendampingan. Menurutnya, seorang pesilat tidak cukup hanya memiliki kemampuan bertanding, tetapi juga harus memiliki mental dan karakter yang kuat.
“Kami tidak pernah menjanjikan semuanya akan langsung menjadi juara. Yang kami tanamkan adalah kemauan untuk berlatih, disiplin dan tidak mudah menyerah. Kalau prosesnya benar, insyaallah prestasi akan mengikuti,” ujar Yanto.
Menurutnya, tugas pelatih bukan sekadar mengajarkan teknik pencak silat, tetapi juga memastikan setiap anak mendapatkan bekal untuk menghadapi proses panjang dalam perjalanan menjadi atlet.
“Ketika mereka salah, kami perbaiki. Ketika mereka jatuh, kami dorong untuk bangkit. Kami ingin setiap generasi yang keluar dari Bhirawa Anoraga punya bekal, baik untuk bertanding maupun untuk kehidupan,” katanya.
Di balik satu medali yang terlihat gemilang, ada perjuangan yang sering tidak terlihat. Ada pelatih yang berkali-kali memberikan koreksi. Ada orang tua yang mengantar anaknya latihan. Ada waktu bermain yang dikorbankan. Ada rasa lelah yang harus ditaklukkan. Bahkan ada kekalahan yang harus diterima sebelum seorang atlet benar-benar memahami arti kemenangan.
Karena itulah pembinaan akar rumput tidak boleh dipandang sebelah mata.