Gertak.id | CIREBON — Musim kemarau mulai membawa nestapa bagi sebagian warga di Kota Cirebon, Jawa Barat. Kekeringan membuat akses terhadap air bersih semakin sulit, bahkan warga di sejumlah wilayah harus mengandalkan pasokan air bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut salah satunya dirasakan warga Kampung Kedung Krisik, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti. Saat bantuan air bersih datang, warga tampak berbondong-bondong mendatangi kendaraan pengangkut air.
Bukan tanpa alasan. Air bersih kini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi masyarakat terdampak. Sumur-sumur warga dilaporkan mulai mengering setelah kemarau berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui akun Instagram @bpbdkotacirebon, Kelurahan Argasunya menjadi salah satu wilayah yang rentan terdampak kekeringan.
“Berdasarkan data dari Kelurahan Argasunya, setidaknya 1.203 KK atau 3.929 jiwa di 6 RW terdampak kekeringan pada tahun ini (2026),” demikian keterangan yang disampaikan BPBD Kota Cirebon.
Kondisi tersebut membuat pemerintah bergerak melakukan distribusi air bersih. Pemkot Cirebon sebelumnya telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2026 sejak 1 Juli hingga 30 September 2026 melalui Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 179 Tahun 2026.
Air Bersih Datang, Warga Langsung Menyerbu
Pemandangan warga menyerbu kendaraan pengangkut air terlihat saat bantuan air bersih tiba di Kampung Kedung Krisik, Kelurahan Argasunya.
Kapolres Cirebon Kota AKBP Bimantoro Kurniawan mengatakan pihak kepolisian turut menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak.
“Ya, kita menurunkan sekitar 10 ribu air, kemudian sementara tadi kita dua toren. Kita akan salurkan terus setiap minggunya,” ujar Bimantoro kepada awak media, Selasa (8/9/2026).
Bagi warga, kedatangan bantuan tersebut bukan sekadar distribusi biasa. Air yang dibawa menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
Sumur Mengering, Warga Terpaksa Cari Air ke Kampung Lain
Salah seorang warga, Zaharoh, mengungkapkan kondisi sumur di wilayahnya semakin memprihatinkan. Air yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan rumah tangga kini tidak lagi mencukupi.
“Buat masak, buat nyuci, buat mandi gitu. Sejak kemarau aja enggak ada air,” kata Zaharoh di lokasi, Selasa (8/9/2026).