MAPAG SRI DESA BABADAN 2026: TRADISI SYUKUR MENYAMBUT PANEN, WARGA BERSATU JAGA WARISAN LELUHUR

Photo Author
Selamet Riyadi, Gertakberita.com
- Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:33 WIB

Gertak.id | INDRAMAYU – Tradisi Mapag Sri kembali digelar masyarakat Desa Babadan, Rabu (12/8/2026). Di tengah derasnya perubahan zaman, warga tetap mempertahankan tradisi agraris yang menjadi bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat desa.

Mapag Sri bukan sekadar kegiatan adat tahunan. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas limpahan rezeki, hasil pertanian, keselamatan, serta keberkahan yang diterima warga.

Bagi masyarakat Babadan, Mapag Sri juga menjadi simbol penghormatan terhadap perjalanan panjang kehidupan agraris. Sawah, hasil bumi, dan kerja keras para petani bukan hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Kuwu Desa Babadan, Sugeng Sari Kuswanto, S.H., hadir langsung dalam pelaksanaan Mapag Sri dan berbaur bersama masyarakat. Kehadiran pemerintah desa di tengah warga menunjukkan komitmen untuk ikut menjaga tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.

Antusiasme warga terlihat dalam rangkaian kegiatan. Masyarakat berkumpul, bersilaturahmi dan mengikuti tradisi dengan penuh semangat. Suasana kebersamaan menjadi gambaran bahwa budaya lokal masih memiliki tempat kuat di tengah kehidupan masyarakat Babadan.

“Mapag Sri bukan hanya tradisi, tetapi bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT. Di dalamnya juga ada silaturahmi, gotong royong dan kebersamaan warga yang harus terus kita pertahankan,” ujar Sugeng Sari Kuswanto.

Ia menegaskan, perkembangan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Justru, tradisi seperti Mapag Sri harus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Jangan sampai kemajuan zaman membuat anak-anak kita lupa dengan budaya sendiri. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Mapag Sri harus tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus Desa Babadan,” tegasnya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak berarti menolak perubahan. Modernisasi tetap diperlukan, namun harus berjalan berdampingan dengan nilai-nilai lokal yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Mapag Sri 2026 pun menjadi momentum untuk kembali mempererat persaudaraan warga. Tradisi tersebut menghadirkan ruang kebersamaan, memperkuat gotong royong dan mengingatkan masyarakat bahwa keberkahan hasil bumi patut disyukuri serta dijaga bersama.

Pelaksanaan Mapag Sri di Desa Babadan menjadi bukti bahwa tradisi lokal belum kehilangan ruhnya. Selama masyarakat masih peduli dan generasi muda mau meneruskan, warisan leluhur tidak akan mudah tergerus zaman.

Mapag Sri Babadan 2026 bukan sekadar menyambut panen. Ini adalah tentang syukur, budaya, gotong royong dan tekad warga untuk menjaga jati diri desa agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Selamet Riyadi

Rekomendasi

Terkini

X