Gertak.id | YOGYAKARTA – Pemandangan tak biasa mengguncang kawasan Malioboro, Yogyakarta. Bukan wisatawan yang menjadi pusat perhatian, melainkan 1.600 ekor ayam petelur afkir yang dibagikan cuma-cuma kepada masyarakat.
Aksi tersebut bukan sekadar bagi-bagi hewan ternak. Di balik ribuan ayam yang berpindah tangan dari peternak kepada warga, terselip jeritan ekonomi para peternak yang mengaku semakin terjepit akibat harga telur yang anjlok, ayam afkir yang sulit terserap, serta biaya pakan yang masih tinggi.
Rombongan peternak ayam petelur dari Bantul, Sleman, Gunungkidul, dan Kulon Progo membawa ayam-ayam tersebut menggunakan sejumlah mobil pikap. Mereka berkumpul di halaman Kantor DPRD DIY pada Senin (10/8/2026) sekitar pukul 08.37 WIB sebelum melakukan aksi pembagian kepada masyarakat.
Warga yang berada di kawasan Malioboro pun berbondong-bondong menerima ayam tersebut. Pengendara sepeda motor hingga penumpang TransJogja turut mendapatkan ayam secara gratis.
Ironisnya, ayam yang biasanya menjadi sumber penghasilan justru dibagikan secara cuma-cuma.
Aksi tersebut menjadi simbol keras atas kondisi peternak yang disebut tengah berada dalam tekanan. Mereka menilai persoalan tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan membiarkan mekanisme pasar berjalan tanpa intervensi.
BUKAN TAK MAU JUAL, TAPI HARGANYA TAK LAGI MENUTUP BIAYA
Koordinator Peternak Ayam Petelur DIY, Andry Patra, menyebut pembagian ayam tersebut sebagai bentuk sedekah kepada masyarakat sekaligus upaya menekan populasi ayam yang dinilai terlalu tinggi.
Menurutnya, ayam yang dibagikan merupakan ayam yang sudah memasuki masa afkir.
Namun persoalannya, harga ayam afkir saat ini disebut hanya berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram.
Kondisi itu membuat peternak berada pada posisi sulit.
“Kita sebagai bentuk apa ya, kita mau sedekah ke masyarakat. Karena harga ayam tidak laku.”
Andry bahkan menyebut harga Rp13.000 per kilogram membuat ayam seolah hanya menjadi beban yang harus segera dikeluarkan dari kandang.
“Ini Rp13.000 itu ibaratnya kita buang ayam, supaya populasi lebih turun lebih cepat.”
Kalimat tersebut menjadi gambaran pahit kondisi peternak.