Gertak.id | Indramayu – Di balik gerakan kaki, pukulan, tangkisan dan keberanian anak-anak memasuki arena, ada proses panjang yang sedang dibangun. Bukan hanya kemampuan bela diri, tetapi juga mental, kedisiplinan, keberanian, pengendalian emosi dan rasa hormat kepada sesama.
Hal itu menjadi bagian dari pembinaan yang dilakukan Perguruan Silat Bhirawa Anoraga terhadap pesilat usia dini melalui kegiatan sparing.
Sparing tersebut tidak ditempatkan sebagai ajang untuk menentukan siapa yang paling kuat. Justru, anak-anak diberikan ruang untuk belajar menghadapi tekanan, mengukur kemampuan diri dan memahami bahwa setiap kemampuan membutuhkan proses.
Di arena, mereka belajar bahwa keberanian bukan berarti harus agresif. Keberanian adalah ketika seorang anak mampu berdiri menghadapi lawan latihan, tetap tenang, mengikuti aturan dan berani menerima ketika teknik yang dikuasainya belum sempurna.
Begitu pula ketika terkena serangan atau melakukan kesalahan. Anak-anak diarahkan untuk tidak larut dalam emosi. Mereka belajar bangkit, memperbaiki gerakan dan kembali mencoba.
“Yang kami bangun bukan hanya kemampuan fisiknya. Kami ingin anak-anak punya mental. Berani tampil, tetapi tetap bisa mengendalikan diri. Bisa menyerang, tetapi tahu kapan harus berhenti. Dan yang paling penting, mereka tetap menghormati teman latihannya,” ujar Yanto Bhirawa Anoraga.
Menurutnya, proses seperti ini penting diberikan sejak usia dini. Sebab, pencak silat tidak semata-mata berbicara tentang kemampuan bertarung, melainkan juga tentang bagaimana seseorang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Karena itu, setiap sparing menjadi bagian dari evaluasi. Pelatih dapat melihat sejauh mana teknik yang diberikan mampu diterapkan, bagaimana respons anak ketika berada di bawah tekanan, serta bagian mana yang masih perlu diperbaiki dalam latihan berikutnya.
Bagi anak-anak, pengalaman tersebut juga menjadi pelajaran yang tidak selalu mereka dapatkan hanya dari latihan teknik. Mereka mulai memahami arti sportivitas, disiplin, kesabaran, keberanian dan menerima kekurangan.
Ada anak yang mungkin terlihat unggul dalam teknik. Ada pula yang masih gugup ketika harus berhadapan dengan teman latihan. Namun semuanya memiliki proses masing-masing. Tidak ada yang dituntut langsung menjadi pesilat hebat.
Yang ditempa adalah keberaniannya. Yang dibangun adalah mentalnya. Yang dijaga adalah karakternya.
Bhirawa Anoraga juga menanamkan pemahaman bahwa teman yang berada di hadapan mereka bukanlah musuh. Lawan sparing justru merupakan bagian penting dari perjalanan untuk berkembang. Tanpa keberanian berhadapan dan saling menguji, seorang pesilat akan sulit mengetahui kemampuan sebenarnya.
“Menang dalam sparing bukan tujuan utama. Kalau hari ini anak masih takut, besok harus lebih berani. Kalau tekniknya masih kurang, diperbaiki. Kalau emosinya belum stabil, dilatih lagi. Jadi yang kami lihat adalah perkembangan anak dari waktu ke waktu,” katanya.