Gertak.id | CIREBON – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Nana Kencanawati, menjadi sorotan publik setelah akun Instagram pribadinya diduga melontarkan komentar yang dinilai merendahkan terhadap salah seorang peserta aksi demonstrasi penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Komentar bertuliskan, "Lagian siapa yang mau ngasih makan? Sudah, Gembrot!" yang muncul melalui akun Instagram @nanakencanawati itu viral di media sosial dan memicu beragam reaksi dari masyarakat. Banyak warganet menilai komentar tersebut tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik dan mengandung unsur body shaming terhadap peserta aksi.
Diketahui, komentar itu ditujukan kepada seorang ibu yang ikut dalam aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Cirebon pada Senin, 15 Juni 2026. Tangkapan layar komentar tersebut kemudian beredar luas dan menjadi perbincangan publik.
Gelombang kritik pun bermunculan. Sejumlah pihak menilai seorang pejabat publik seharusnya mampu menahan diri dan menyampaikan pandangan secara santun, terlebih ketika menghadapi kritik maupun aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui aksi unjuk rasa.
Menanggapi polemik yang berkembang, Nana Kencanawati akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pihak yang merasa tersinggung atas komentar tersebut.
"Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu yang bersangkutan, keluarga, serta seluruh masyarakat atas komentar yang saya tuliskan di media sosial," ujar Nana dalam pernyataannya, Kamis (18/6/2026).
Ia mengakui bahwa komentar tersebut tidak tepat dan telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi banyak pihak. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting agar lebih berhati-hati dalam penggunaan media sosial.
Namun dalam klarifikasinya, Nana menyebut komentar yang menjadi polemik itu ditulis oleh tim media yang biasa membantu mengelola akun Instagram miliknya. Ia menjelaskan bahwa saat kejadian berlangsung, akun tersebut sedang diakses oleh tim yang bertugas mengelola konten media sosial.
"Kebetulan saat membuka Instagram, tim media saya yang menggunakan akun dan saat itu komentar tersebut ditulis secara spontan," kata Nana.
Pernyataan tersebut justru memunculkan perdebatan baru di tengah masyarakat. Sebagian publik mempertanyakan mekanisme pengelolaan akun pejabat publik serta tanggung jawab pemilik akun terhadap setiap aktivitas yang dilakukan melalui akun resminya.
Nana juga mengaku baru mengetahui komentar tersebut menjadi viral setelah menerima banyak telepon pada malam hari. Ia berdalih keterbatasan dalam penggunaan teknologi membuat dirinya tidak langsung mengetahui respons publik yang berkembang.
"Saya tahunya setelah malam banyak yang telepon. Karena saya gaptek, sementara tim media tinggal di Kota Cirebon. Jadi baru bisa melihat postingan dan komentar-komentarnya pada malam hari," ungkapnya.
Meski permintaan maaf telah disampaikan, polemik ini masih menjadi perhatian publik. Banyak pihak berharap peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi para pejabat publik agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga etika komunikasi, terutama saat merespons aspirasi masyarakat.