Gertak.id | Indramayu — Dugaan pelajar SMP dijadikan massa bayaran dalam aksi demonstrasi kritik terhadap bupati membuat publik geram. Anak-anak yang mestinya duduk belajar di bangku sekolah justru diduga digiring ke jalanan demi menambah jumlah massa aksi dengan iming-iming uang Rp50 ribu.
Publik menilai tindakan tersebut sangat keterlaluan. Dunia pendidikan dianggap sedang dipermalukan ketika anak di bawah umur diduga dijadikan “pasukan lapangan” untuk kepentingan demo dan permainan opini.
Informasi yang beredar menyebut para pelajar sengaja tidak memakai seragam sekolah agar sulit dikenali. Namun keberadaan mereka di tengah kerumunan massa tetap memicu kecaman luas dari masyarakat.
“Kalau benar dibayar Rp50 ribu untuk ikut demo, ini sudah sangat biadab. Anak sekolah diperalat demi kepentingan orang dewasa,” ujar seorang warga yang tak mau disebutkan namanya dengan nada kesal.
Media sosial pun dipenuhi kritik pedas. Banyak warganet menyebut pelajar hanya dijadikan alat untuk membesarkan jumlah massa agar aksi terlihat ramai dan memiliki tekanan politik lebih besar.
Yang membuat publik semakin murka, para pelajar itu diduga belum memahami substansi tuntutan aksi. Mereka hanya ikut bergerak mengikuti arahan pihak tertentu tanpa mengerti risiko yang bisa terjadi di lapangan.