Gertak.id | Indramayu - Situasi di Desa Singajaya, khususnya Blok Karang Baru, kini benar-benar panas. Warga tak lagi sekadar mengeluh—mereka turun langsung memasang sekitar 10 spanduk penolakan sebagai tanda “perang terbuka” terhadap kos-kosan yang disewakan per jam dan diduga kuat menjadi tempat praktik prostitusi terselubung.
Bagi warga, ini bukan lagi isu abu-abu. Aktivitas yang terjadi disebut sudah terang-benderang dan berlangsung nyaris tanpa kontrol. Lingkungan yang dulu aman kini berubah jadi titik rawan yang memicu keresahan kolektif.
APIP, salah satu warga, menyebut nama-nama kos seperti Firda, Zaguar, dan Dea secara gamblang. Ia menilai pola penyewaan per jam bukan sekadar bisnis biasa, melainkan modus yang membuka ruang luas bagi praktik menyimpang.
“Ini bukan rahasia lagi. Polanya jelas, datang—sebentar—pergi, lalu ganti orang. Kalau ini dibiarkan, kampung kami bisa hancur,” ujarnya tegas.
Yang membuat warga semakin murka adalah lalu lintas kendaraan asing yang keluar masuk, terutama saat malam. Aktivitas tersebut dinilai tidak wajar dan mengindikasikan adanya sesuatu yang sengaja disembunyikan.
“Kami bukan tidak tahu. Setiap malam kami lihat sendiri. Ini bukan sekadar gangguan, tapi ancaman nyata buat lingkungan,” kata Supri dengan nada tinggi.
Tak hanya menolak yang sudah ada, warga juga mengultimatum rencana pembangunan kos baru di wilayah tersebut. Mereka menegaskan tidak akan tinggal diam jika ekspansi terus berjalan.