Gertak.id | Indramayu - Aksi keras ditunjukkan pihak Kompi dengan menebar uang koin sebagai simbol ganti rugi fasilitas umum (fasum) tepat di depan pintu masuk Kantor Bupati. Hingga kini, koin-koin tersebut masih berserakan, menjadi pemandangan yang tak hanya mencolok, tetapi juga memalukan bagi wajah pemerintahan daerah.
Penebaran koin ini bukan sekadar aksi simbolik, melainkan sindiran terbuka yang menghantam langsung kebijakan pemerintah daerah. Lokasi yang dipilih—akses utama keluar masuk pejabat—seolah menegaskan bahwa protes ini sengaja diarahkan agar tak bisa diabaikan.
Salah satu warga yang tak mau namanya disebutkan menilai, nilai ganti rugi yang diberikan tidak hanya tidak layak, tetapi juga terkesan melecehkan. Kerusakan fasum yang berdampak luas dibalas dengan nominal yang dianggap “recehan”, memicu amarah sekaligus rasa dipermainkan.
“Silakan hitung sendiri koinnya. Kalau masih kurang, bilang saja—jangan pura-pura tidak lihat dan tidak dengar keluhan kami,” ujar salah satu warga yang tak mau disebutkan namanya itu dengan nada tajam.
Kutipan tersebut mencerminkan puncak kekecewaan masyarakat terhadap sikap pemerintah daerah yang dinilai tidak transparan dan tidak responsif. Bagi warga, persoalan ini bukan lagi sekadar soal nominal, melainkan menyangkut penghargaan dan keadilan.
Ironisnya, hingga detik ini tidak ada langkah nyata dari pemerintah daerah. Koin-koin itu tetap dibiarkan berserakan, tanpa dibersihkan, tanpa klarifikasi, tanpa tanda-tanda adanya tanggung jawab.
Sikap bungkam tersebut dinilai bukan lagi kelalaian biasa, melainkan bentuk abai yang disengaja. Pemerintah daerah dianggap gagal total membaca situasi dan memilih diam di tengah kemarahan publik yang kian memuncak.