Gertak.id | Indramayu — Lomba catur antar wartawan di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Indramayu tak lagi sekadar ajang santai. Arena berubah jadi medan tempur strategi ketika Wakil Kepala Polres (Waka Polres) Indramayu turun gelanggang—dan tanpa ampun menggulung lawan-lawannya.
Bukan basa-basi. Sejak babak awal, dominasi sudah terlihat. Para wartawan yang biasanya tajam di pena, kali ini dipaksa angkat tangan di atas papan catur. Satu per satu tumbang, tak mampu membendung permainan dingin dan penuh perhitungan dari sang perwira.
Langkah demi langkah Waka Polres seperti jebakan. Tenang, tapi mematikan. Celah sekecil apa pun langsung dihukum. Tak ada ruang untuk kesalahan. Hingga akhirnya, gelar juara pertama diraih dengan cara yang nyaris tak terbantahkan—bersih dan telak.
Kehadiran Waka Polres bukan cuma meramaikan, tapi mengubah peta persaingan. Lomba yang semula dianggap hiburan, mendadak naik kelas jadi pertarungan serius. Bahkan sejumlah peserta mengaku “kewalahan” menghadapi gaya main yang disiplin dan agresif.
“Ini bukan hanya soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita membangun kedekatan,” ujarnya singkat, usai memastikan diri di puncak klasemen.
Namun pesan yang tersirat lebih dalam—ini bukan sekadar silaturahmi. Ini juga panggung unjuk kapasitas. Bahwa di balik seragam, ada ketajaman berpikir yang tak bisa dipandang remeh.
Di atas papan hitam-putih itu, satu hal jadi jelas: Waka Polres Indramayu bukan hanya piawai menjaga keamanan, tapi juga lihai menaklukkan lawan. Wartawan? Kali ini harus mengakui—mereka kalah langkah.