Geopolitik Minyak Venezuela dan Risiko Ekonomi Indonesia

Photo Author
Selamet Riyadi, Gertakberita.com
- Minggu, 11 Januari 2026 | 15:01 WIB

Dampak lanjutan yang kerap luput diperhitungkan adalah jalur China. Jika China kehilangan pasokan minyak murah dari Venezuela dan harus membeli dengan harga lebih mahal, biaya energi industrinya akan meningkat.

Perlambatan ekonomi China pun menjadi risiko nyata.

Padahal, lebih dari 20 persen ekspor Indonesia bergantung pada pasar China, terutama komoditas strategis seperti batu bara, nikel, CPO, dan mineral lainnya.

Jika pertumbuhan ekonomi China melambat satu persen saja, dampaknya terhadap volume dan harga komoditas Indonesia bisa signifikan. Hal ini akan menekan penerimaan devisa dan pendapatan negara.

Dalam satu waktu yang sama, Indonesia berpotensi menghadapi dua tekanan sekaligus: dari sisi pengeluaran melalui lonjakan biaya impor energi dan subsidi, serta dari sisi pendapatan melalui pelemahan ekspor akibat perlambatan China. Inilah yang menjadikan krisis Venezuela—meski secara geografis jauh—sebagai risiko ekonomi nyata bagi Indonesia.

Minyak Venezuela mungkin mengalir ke China, tetapi efek akhirnya dapat terasa di neraca perdagangan Indonesia, stabilitas APBN, hingga daya beli masyarakat. Pada titik ini, isu Venezuela tidak lagi relevan dibaca semata sebagai konflik ideologis atau politik kawasan. Ia adalah cermin rapuhnya ketahanan energi dan tingginya keterkaitan ekonomi global.

Dalam dunia yang saling terhubung, satu juta barel yang hilang di Karibia dapat berubah menjadi tekanan fiskal dan inflasi di Indonesia—dan itu bukan ancaman jangka panjang, melainkan risiko yang bisa terjadi dalam waktu dekat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Selamet Riyadi

Rekomendasi

Terkini

X