Tradisi Musim Durian: Warga Desa Landau Badai Olah Durian Menjadi Lempok dan Tempoyak Secara Gotong Royong

Photo Author
Effendy Gertak, Gertakberita.com
- Kamis, 8 Januari 2026 | 06:32 WIB

Rabu, 7 Januari 2026

Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu —

Musim durian selalu menjadi momen istimewa bagi masyarakat Kalimantan Barat. Tidak sekadar menandai melimpahnya hasil kebun, musim ini juga menjadi waktu penting untuk melestarikan tradisi pengolahan durian yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu tradisi tersebut masih terjaga dengan baik di Desa Landau Badai, Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Rabu (7/1/2026).

Di desa ini, durian tidak hanya dinikmati secara langsung atau dijual per biji. Warga memanfaatkannya dengan mengolah daging buah durian menjadi makanan khas bernilai tinggi, seperti lempok dan tempoyak.

Aktivitas pengolahan ini dilakukan secara sederhana di rumah, namun sarat akan nilai kebersamaan dan kearifan lokal.

Sejak pagi hari, suasana rumah salah satu warga Desa Landau Badai tampak lebih ramai dari biasanya. Tumpukan durian matang hasil kebun dibelah satu per satu.

Daging buahnya dipisahkan dari biji, kemudian dikumpulkan untuk diolah. Proses ini melibatkan seluruh anggota keluarga, mulai dari orang tua hingga anak-anak, masing-masing mengambil peran sesuai kemampuan.

Pembuatan lempok durian menjadi tahapan paling menyita waktu dan tenaga. Daging durian dimasukkan ke dalam kuali besar, lalu dimasak di atas api sedang. Selama proses memasak, adonan harus terus diaduk tanpa henti selama berjam-jam agar tidak gosong dan menghasilkan tekstur lempok yang kental, legit, serta memiliki cita rasa khas.

Karena membutuhkan tenaga ekstra, kegiatan mengaduk lempok dilakukan secara bergantian. Satu orang mengaduk, sementara yang lain beristirahat, lalu bergantian kembali. Meski melelahkan, suasana tetap terasa hangat dan penuh canda.

“Kalau tidak sabar dan tidak kuat mengaduk, lempoknya bisa gagal. Tapi kalau sudah jadi, rasanya khas sekali dan bisa tahan lama,” ujar salah satu warga Desa Landau Badai saat ditemui di sela kegiatan.

Selain lempok, sebagian durian juga diolah menjadi tempoyak, yaitu durian yang difermentasi secara alami. Tempoyak merupakan bahan makanan khas yang sangat populer di Kalimantan Barat dan sering digunakan sebagai bumbu masakan tradisional, seperti ikan tempoyak atau sambal tempoyak. Proses fermentasi dilakukan dengan cara sederhana, menggunakan teknik tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi mengolah durian ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.

Lempok durian dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas daerah yang banyak diminati, terutama saat musim durian tiba. Harga jualnya pun relatif stabil dan menguntungkan dibandingkan menjual durian segar semata.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Yuliarto Mugi Widodo

Rekomendasi

Terkini

X