Akses Darat Belum Pulih, TNI Akui Krisis BBM Hambat Operasi Hingga Mobilisasi Alat Berat

Photo Author
Redaksi Gertak, Gertakberita.com
- Kamis, 4 Desember 2025 | 15:45 WIB
Wakil Ketua I Satgas Penanggulangan Bencana Alam Provinsi Aceh, Kolonel Inf Fransisco (kiri) ungkap kendala distribusi bantuan di Aceh. (Dok BNPB)
Wakil Ketua I Satgas Penanggulangan Bencana Alam Provinsi Aceh, Kolonel Inf Fransisco (kiri) ungkap kendala distribusi bantuan di Aceh. (Dok BNPB)

Gertak.id– Upaya penyaluran bantuan ke wilayah-wilayah terdampak bencana di Aceh terus menghadapi tantangan berat. Hingga kini, sebagian besar akses darat masih lumpuh akibat kerusakan infrastruktur yang parah, sementara kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) menghambat pengerahan alat berat yang sangat dibutuhkan untuk membuka jalur utama.

Kondisi tersebut membuat distribusi logistik ke sejumlah kabupaten dan kota terdampak hanya dapat dilakukan melalui jalur udara. TNI, yang tergabung dalam Satgas Penanggulangan Bencana Alam Provinsi Aceh, menyebut situasi ini sebagai salah satu tantangan terbesar sejak bencana menghantam provinsi tersebut pada akhir November lalu.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua I Satgas Penanggulangan Bencana Aceh, Kolonel Inf Fransisco, dalam konferensi pers pada Rabu, 3 Desember 2025.

BBM Langka, Alat Berat Tak Bisa Digerakkan

Menurut Kolonel Fransisco, tantangan terbesar saat ini adalah putusnya jalur distribusi BBM ke wilayah terdampak. Tidak ada truk tangki yang mampu mencapai lokasi-lokasi kritis karena seluruh jalur darat terhalang oleh lumpur, longsoran, hingga struktur jembatan yang rusak total.

“Kendala yang ada di lapangan adalah kehabisan bahan bakar. Untuk pengerahan kekuatan atau mobilisasi alat-alat berat, kita terkendala dengan bahan bakar,” tegas Fransisco.

Akibat kelangkaan BBM ini, banyak alat berat yang sebenarnya sudah disiapkan untuk membuka jalur tidak dapat dioperasikan. Operator dan prajurit di lapangan bahkan harus memprioritaskan penggunaan sisa bahan bakar untuk kebutuhan paling mendesak seperti evakuasi korban atau pengiriman logistik skala kecil.

42 Titik Jalan dan Jembatan Putus Menghambat Mobilitas

Kerusakan infrastruktur yang tersebar pada banyak titik menjadi penyebab utama terhambatnya penanganan darurat.

Berdasarkan data Satgas, terdapat 15 ruas jalan utama yang terputus serta 27 jembatan yang rusak, baik di jalur nasional, provinsi, maupun penghubung antar kabupaten/kota.

“Ada 15 titik ruas jalan yang terputus kemudian 27 titik jembatan yang putus, baik jalan nasional maupun jalan provinsi,” jelas Fransisco.

Kerusakan terparah terjadi di jalur penghubung ke wilayah Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, serta bagian barat Aceh yang terdampak banjir bandang. Di beberapa area, struktur jembatan ambruk total sehingga memutus seluruh hubungan darat antara desa dengan pusat kabupaten.

Empat Wilayah Sempat Terisolir Total

Dari total 18 kabupaten/kota terdampak, empat wilayah sempat benar-benar terisolir selama lebih dari 48 jam setelah bencana terjadi. Tidak ada akses darat, komunikasi terganggu, dan kebutuhan dasar sulit dipenuhi.

Wilayah tersebut kini mulai terbuka secara perlahan setelah tim gabungan melakukan peninjauan dan membuka akses darurat.

“Dari 18 kabupaten kota yang terdampak bencana, ada empat wilayah yang betul-betul terisolir, tapi saat sekarang sudah mulai terbuka secara perlahan,” ujar Fransisco.

Meski demikian, akses sepenuhnya belum pulih. Pemerintah tetap mengandalkan udara untuk menyalurkan bantuan dalam skala besar ke wilayah yang masih sulit dijangkau.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Yuliarto Mugi Widodo

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X