Gertak.id — Insiden ambruknya bangunan asrama Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah di Meunasah Subung, Kabupaten Bireuen, Aceh, Kamis (27/11), menyisakan duka sekaligus keprihatinan mendalam. Bangunan asrama putra itu roboh dan jatuh ke arah sungai setelah kawasan tersebut diterjang banjir bandang dan longsor akibat tingginya curah hujan dalam sepekan terakhir.
Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materi ditaksir mencapai Rp6 miliar, berdasarkan pernyataan resmi dari Pembina Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah, Tgk Adli Abdullah, dalam konferensi pers di Banda Aceh.
“Alhamdulillah tidak ada korban. Santri sudah diungsikan sejak semalam ke masjid pesantren,” ujar Adli.
Ratusan Santri Diungsikan, Butuh Dapur Darurat hingga Pakaian Pengganti
Hingga kini, sebanyak 329 santri penghuni asrama telah dievakuasi ke masjid pesantren sebagai lokasi pengungsian sementara. Santri membutuhkan logistik tambahan seperti dapur darurat, pakaian pengganti, hingga alas tidur.
“Kita butuh dapur darurat dan pakaian pengganti bagi para santri,” jelas Adli, memastikan bahwa kebutuhan mendesak segera disampaikan kepada pemerintah daerah dan pihak terkait untuk ditindaklanjuti.
Sepekan Diguyur Hujan Deras, Sungai Meluap, Tebing Longsor
Sejumlah wilayah di Aceh dalam sepekan terakhir diguyur hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Sedikitnya 9 kabupaten terdampak banjir dan longsor akibat meluapnya aliran sungai dan kuatnya arus permukaan.
Asrama Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah berada tepat di tepi Sungai Krueng Batee Iliek, membuat bangunan lebih rentan terhadap pergerakan tanah ketika arus meningkat.
Menurut Adli, pengaman tebing sungai yang dibangun menggunakan batu gajah diduga menjadi penyebab melemahnya struktur penahan tanah hingga akhirnya terjadi longsor.
“Longsor disebabkan batu gajah yang dipasang tidak sesuai. Pengaman tebing rusak, lalu bangunan ikut ambruk,” jelasnya.
Pengaman Tebing Dibangun 2016, Pernah Bermasalah dan Masuk Proses Hukum
Tembok pengaman sungai itu dibangun pada 2016 dan disebut pernah jebol ketika wilayah tersebut dilanda banjir bandang di tahun yang sama. Adli mengungkapkan bahwa proyek tersebut juga sempat bermasalah secara hukum.
“Terpidananya sudah menjalani hukuman,” ujarnya, menegaskan bahwa kualitas pembangunan pengaman tebing tersebut memang menjadi perhatian sejak lama.
Respon Pemerintah: 80 Ponpes di Jawa dan Aceh Rawan Ambruk
Insiden ini sekaligus menguatkan kembali peringatan yang sebelumnya disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Pada 14 Oktober 2025, Cak Imin menyebut bahwa pihaknya menerima laporan melalui call center 158 terkait pondok pesantren yang berpotensi ambruk atau mengalami kerusakan struktural.
“Sudah ada 80-an laporan sampai hari ini. Intinya kerawanan ambruk,” ujar Cak Imin di Jakarta.
Wilayah pelapor terbanyak berasal dari Jawa, disusul Aceh dan Kalimantan. Seluruh laporan disebut akan diverifikasi dan diaudit untuk mencegah kerusakan fatal.