MANADO, SULAWESI UTARA– Gelaran Musyawarah Besar (Mubes) Penambang Rakyat pada 3–4 Mei 2025 di Hotel Arya Duta Manado memantik polemik. Jika APRI (Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia) menyebutnya "hoaks" dan tidak resmi, para inisiator justru menegaskan bahwa forum ini adalah bentuk perlawanan terhadap dominasi elit organisasi yang dinilai gagal memperjuangkan hak penambang kecil.
Hendra Abarang, Wakil Ketua I DPC APRI Bolaang Mongondow Timur, sebelumnya menyatakan bahwa Mubes tersebut tidak sah dan mengatasnamakan APRI. Namun, Danny Kaloh , salah satu penggagas acara yang juga mantan ketua DPC APRI Kota Bitung, membantah klaim itu.
"Ini murni gerakan akar rumput. Kami tidak pakai label APRI karena kami tidak percaya lagi pada sistem yang hanya menguntungkan segelintir pengurus, mubes ini mengatasnakan Aliansi Penambang Rakyat Sulut" tegas Daka panggilan akrab Danny Kaloh.
Menurutnya, selama ini perjuangan APRI di Sulawesi Utara, meski sempat diinisiasi dengan baik oleh mantan Ketua DPW Jems Tuuk—termasuk pengusulan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) hingga ke tingkat gubernur—ternyata mentok di birokrasi karena gubernur yang lama belum berpihak pada penambang rakyat. "WPR tak kunjung disahkan karena pemerintah daerah pada periode lama tidak berpihak pada penambang, tetapi kepada korporasi. Tapi salahkah penambang jika kini mencari jalan lain ?"
Danny juga menyoroti pembekuan DPW APRI Sulut oleh DPP APRI sebagai langkah represif. "Mereka baru bertindak setelah penambang mulai bersuara. Ini bukan pembenahan, tapi upaya membungkam kritik, "ujarnya.
Ia menambahkan, pembekuan itu justru memperkuat argumen bahwa APRI kehilangan legitimasi di mata penambang. "Jika APRI benar-benar mewakili kami, mengapa tidak ada terobosan nyata? Kenapa baru ribut saat rakyat bergerak mandiri ?"
Meski mengkritik APRI, Danny Kaloh mengakui peran Jems Tuuk sebagai salah satu sedikit figur yang masih dianggap mampu bernegosiasi dengan Gubernur Sulut Yulius Selvanus . "Jika penambang memilih beliau sebagai representasi, itu karena track record-nya, bukan karena struktur APRI, "jelasnya.
Danny menegaskan, Mubes ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan awal dari konsolidasi penambang rakyat yang lepas dari kendali organisasi lama. "Kami tidak mau jadi tumbal politik atau proyek pencitraan. Ini tentang kedaulatan penambang kecil,"tegasnya.
Pertanyaannya kini, Akankah gerakan ini benar-benar melahirkan perubahan, atau hanya akan menjadi fragmen baru dalam drama perebutan pengaruh di dunia pertambangan rakyat ?.
(N/Tim).