Lebak, Gertak.id – Kondisi jembatan penghubung antara Kampung Kamancing dan Kampung Babakan Hilir, Desa Margawangi, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, kini kian memprihatinkan. Jembatan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas warga itu tampak mengenaskan seperti besi pengaman di sisi kiri-kanan sudah lama hilang, lantai jembatan keropos, dan tiang-tiang penopang mulai termakan usia.
Ironisnya, kerusakan ini bukan terjadi baru-baru ini. Menurut keterangan warga, jembatan tersebut telah lama rusak parah, namun hingga kini tak kunjung ada perbaikan dari pihak pemerintah desa maupun instansi terkait.
“Sudah lama begini, tapi tidak ada tindakan. Seperti sengaja dibiarkan. Besi pengaman di pinggir sudah lama hilang, sekarang warga harus ekstra hati-hati saat melintas,” ujar salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Kerusakan ini membuat jembatan rawan memakan korban, apalagi saat musim hujan ketika permukaan licin dan arus sungai di bawahnya deras. Warga yang setiap hari melintas terpaksa menanggung risiko besar, sementara pemerintah desa terkesan tak peduli.
Upaya konfirmasi dilakukan kepada Kepala Desa Margawangi melalui pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini diturunkan, pesan yang dikirim tak mendapat balasan. Sikap bungkam ini memunculkan tanda tanya besar: apakah memang ada kelalaian, atau ada alasan lain yang sengaja ditutupi?
Kondisi ini memicu kekecewaan warga. Pasalnya, dana desa yang seharusnya bisa dialokasikan untuk infrastruktur vital seperti jembatan, justru tak terlihat hasilnya di lapangan. Warga menduga, masalah ini dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi jelas.
Warga berharap agar pemerintah desa dan pemerintah daerah segera turun tangan. Mereka mengingatkan, jika menunggu sampai ada korban jiwa, maka penyesalan akan datang terlambat.
“Jangan tunggu ada orang jatuh atau kecelakaan baru sibuk perbaiki. Ini jembatan penting untuk aktivitas kami. Pemerintah harusnya cepat tanggap, bukan diam saja,” tegas warga lainnya.
Kerusakan jembatan penghubung seperti ini bukan hanya menghambat akses, tetapi juga bisa berdampak pada perekonomian warga. Anak sekolah, petani, pedagang, hingga pengendara motor semua bergantung pada jembatan tersebut.
Kini bola panas ada di tangan pemerintah desa Margawangi dan instansi terkait. Apakah mereka akan segera bertindak, atau terus membiarkan jembatan itu menjadi bom waktu yang mengancam keselamatan warganya.