daerah

Sopir, Petani Kecil, dan Ketua KTH Harapkan Transparansi Penerimaan Buah di PKS Nanga SilatSopir, Petani Kecil, dan Ketua KTH Harapkan Transparansi Pe

Minggu, 31 Mei 2026 | 18:56 WIB

Sabtu 30 mei 2026
Nanga Silat – Sejumlah sopir angkutan buah sawit, petani kecil, serta Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) menyampaikan harapan agar sistem penerimaan buah di PKS Nanga Silat dapat berjalan lebih transparan, adil, dan terbuka bagi seluruh pemasok tanpa adanya perlakuan yang berbeda.


Menurut keterangan yang dihimpun dari berbagai pihak, terdapat sejumlah keluhan yang berkembang di kalangan petani dan sopir terkait proses antrean, penerimaan buah, serta keterbatasan kuota yang dinilai berdampak terhadap petani kecil. Kondisi tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat yang berharap adanya penjelasan terbuka mengenai mekanisme penerimaan buah sawit di pabrik.


Ketua KTH menyampaikan bahwa petani kecil merupakan bagian penting dalam rantai pasok industri kelapa sawit. Oleh karena itu, mereka berharap seluruh petani memperoleh kesempatan yang sama dalam memasarkan hasil panennya sesuai aturan dan prosedur yang berlaku.


"Kami berharap ada keterbukaan informasi terkait sistem penerimaan buah, kuota, jadwal bongkar, dan standar penilaian kualitas buah. Dengan demikian, tidak ada kesalahpahaman di lapangan dan seluruh petani dapat merasa diperlakukan secara adil," ujarnya.


Para petani kecil mengaku sangat bergantung pada hasil panen sawit untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sementara itu, para sopir yang mengangkut hasil panen berharap adanya kepastian pelayanan agar tidak mengalami kerugian akibat antrean yang panjang maupun keterlambatan proses bongkar muat di pabrik.
Menurut mereka, transparansi dalam sistem penerimaan buah merupakan faktor penting untuk menjaga kepercayaan antara perusahaan, petani, sopir, dan masyarakat. Keterbukaan informasi dinilai dapat menciptakan suasana yang lebih kondusif serta menghindari munculnya berbagai spekulasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.


Selain itu, masyarakat berharap pihak manajemen PKS Nanga Silat dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan para petani, sopir, dan kelompok tani. Dialog yang terbuka diyakini menjadi salah satu solusi untuk menyerap aspirasi dan mencari jalan keluar terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lapangan.
Ketua KTH juga menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan bukan bertujuan untuk mencari konflik ataupun menyudutkan pihak tertentu. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan usaha petani kecil agar dapat terus berkembang dan memperoleh akses yang adil dalam pemasaran hasil panen.


Sebagai salah satu sektor yang menjadi penopang perekonomian masyarakat, industri kelapa sawit diharapkan mampu memberikan manfaat yang merata bagi seluruh pelaku usaha, mulai dari petani kecil, sopir angkutan, kelompok tani, hingga pihak perusahaan. Dengan adanya perhatian dan langkah perbaikan yang nyata, diharapkan sistem penerimaan buah di PKS Nanga Silat dapat berlangsung lebih profesional, transparan, dan menguntungkan semua pihak demi mendukung kesejahteraan masyarakat serta kemajuan daerah.
Nanga Silat – Sejumlah sopir angkutan buah sawit, petani kecil, serta Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) menyampaikan harapan agar sistem penerimaan buah di PKS Nanga Silat dapat berjalan lebih transparan, adil, dan terbuka bagi seluruh pemasok tanpa adanya perlakuan yang berbeda.


Menurut keterangan yang dihimpun dari berbagai pihak, terdapat sejumlah keluhan yang berkembang di kalangan petani dan sopir terkait proses antrean, penerimaan buah, serta keterbatasan kuota yang dinilai berdampak terhadap petani kecil. Kondisi tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat yang berharap adanya penjelasan terbuka mengenai mekanisme penerimaan buah sawit di pabrik.


Ketua KTH menyampaikan bahwa petani kecil merupakan bagian penting dalam rantai pasok industri kelapa sawit. Oleh karena itu, mereka berharap seluruh petani memperoleh kesempatan yang sama dalam memasarkan hasil panennya sesuai aturan dan prosedur yang berlaku.
"Kami berharap ada keterbukaan informasi terkait sistem penerimaan buah, kuota, jadwal bongkar, dan standar penilaian kualitas buah. Dengan demikian, tidak ada kesalahpahaman di lapangan dan seluruh petani dapat merasa diperlakukan secara adil," ujarnya.


Para petani kecil mengaku sangat bergantung pada hasil panen sawit untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sementara itu, para sopir yang mengangkut hasil panen berharap adanya kepastian pelayanan agar tidak mengalami kerugian akibat antrean yang panjang maupun keterlambatan proses bongkar muat di pabrik.
Menurut mereka, transparansi dalam sistem penerimaan buah merupakan faktor penting untuk menjaga kepercayaan antara perusahaan, petani, sopir, dan masyarakat. Keterbukaan informasi dinilai dapat menciptakan suasana yang lebih kondusif serta menghindari munculnya berbagai spekulasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.


Selain itu, masyarakat berharap pihak manajemen PKS Nanga Silat dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan para petani, sopir, dan kelompok tani. Dialog yang terbuka diyakini menjadi salah satu solusi untuk menyerap aspirasi dan mencari jalan keluar terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lapangan.
Ketua KTH juga menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan bukan bertujuan untuk mencari konflik ataupun menyudutkan pihak tertentu. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan usaha petani kecil agar dapat terus berkembang dan memperoleh akses yang adil dalam pemasaran hasil panen.


Sebagai salah satu sektor yang menjadi penopang perekonomian masyarakat, industri kelapa sawit diharapkan mampu memberikan manfaat yang merata bagi seluruh pelaku usaha, mulai dari petani kecil, sopir angkutan, kelompok tani, hingga pihak perusahaan. Dengan adanya perhatian dan langkah perbaikan yang nyata, diharapkan sistem penerimaan buah di PKS Nanga Silat dapat berlangsung lebih profesional, transparan, dan menguntungkan semua pihak demi mendukung kesejahteraan masyarakat serta kemajuan daerah.

Jurnalis Effendy 

Terkini