daerah

Harga Sembako di Takengon Melonjak Pascabencana, Warga Jalan Kaki 5 Jam ke Bener Meriah

Minggu, 28 Desember 2025 | 15:22 WIB
Pascabanjir dan Longsor, Warga Takengon Tempuh Puluhan Kilometer Cari Logistik./Dok. Instagram/ayumten

Aceh, Gertak.id - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera sebulan lalu berdampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat, termasuk di wilayah Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. 

Putusnya akses jalan utama menyebabkan distribusi bahan pokok terganggu dan memicu lonjakan harga kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh warga Takengon setelah jalur penghubung menuju Kabupaten Bener Meriah terputus akibat banjir dan longsor. Akibatnya, wilayah Takengon sempat terisolir dan tidak dapat dilalui kendaraan bermotor.

Untuk memenuhi kebutuhan logistik, warga terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer menuju Kampung Kem di Bener Meriah. Langkah ini ditempuh karena harga bahan pokok di wilayah tersebut dinilai lebih terjangkau dibandingkan di Takengon.

Salah satu warga Takengon mengungkapkan perbedaan harga yang cukup mencolok antara kedua daerah tersebut.

“Harga beras di Kem Rp250.000 per sak yang 15 kg, kalau di Takengon udah Rp400.000. Minyak goreng yang 1 liter itu di Kem Rp25.000, di Takengon Rp35.000,” ucap salah satu warga dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @ayumten pada Sabtu, 27 Desember 2025.

Selain beras dan minyak goreng, lonjakan harga juga terjadi pada komoditas lain. Harga telur ayam di Kampung Kem tercatat Rp65.000, sementara di Takengon telah mencapai Rp120.000. “Sebagian (harganya) dua kali lipat, sebagian lebih,” lanjutnya.

Perjalanan menuju Bener Meriah tidak mudah. Warga harus melewati medan licin dan berlumpur akibat bekas longsoran, sehingga membutuhkan kehati-hatian ekstra. Dalam kondisi tersebut, warga harus menempuh perjalanan pulang-pergi selama sekitar lima jam. 

"Perginya 2 jam, pulang 3 jam karena bawa barang kan. 5 Jam pulang pergi, setiap hari kalau saya,” imbuhnya.

Dengan keterbatasan akses dan waktu tempuh yang panjang, warga berharap perbaikan jalan dapat segera diselesaikan agar mobilitas kembali normal.

“Mudah-mudahan cepat selesai jalannya kan,” sambungnya.

Selain membeli logistik, sebagian warga juga memanfaatkan perjalanan tersebut untuk membawa hasil panen, seperti buah nanas, guna dijual kepada warga yang ditemui di sepanjang perjalanan.

Saat ini, pemerintah bersama pihak terkait terus melakukan perbaikan akses menuju Takengon. Upaya tersebut diharapkan dapat memperlancar aktivitas ekonomi warga sekaligus memudahkan distribusi bantuan logistik ke wilayah yang sempat terisolir.

Tags

Terkini