Bendungan Jlantah Diresmikan, Petani Bisa Panen Padi Tiga Kali Setahun

Photo Author
Ariyanto, Gertakberita.com
- Jumat, 10 Juli 2026 | 22:07 WIB

Ia mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk mengusulkan pembangunan jaringan irigasi melalui Instruksi Presiden (Inpres).

Nanti kami bersama Pemerintah Kabupaten Karanganyar akan mengusulkan pembangunan jaringan irigasi tersier melalui Inpres. Sementara Kementerian PU akan menangani pembangunan jaringan irigasi primer dan sekunder sehingga distribusi air ke lahan pertanian dapat berjalan maksimal," jelasnya.

Sumarno menilai pengelolaan sumber daya air ke depan perlu dilakukan secara terpadu. Menurutnya, keberadaan bendungan utama perlu didukung pembangunan bendung-bendung kecil di sepanjang aliran sungai agar air tidak langsung mengalir ke laut dan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Kalau kita ingin memanfaatkan air seoptimal mungkin, sebaiknya tidak hanya ada bendung besar seperti ini, tetapi juga bendung-bendung kecil di bagian hilir. Dengan begitu air bisa ditampung lebih lama, dimanfaatkan masyarakat, serta mendukung pertanian dan kebutuhan air di berbagai wilayah," pungkasnya.

Sementara itu, kehadiran Bendung Jlantah di Kabupaten Karanganyar membawa perubahan besar bagi sektor pertanian, khususnya bagi para petani di Desa Tlobo. Jika sebelumnya hanya mampu menanam padi dua kali dalam setahun, kini petani dapat melakukan tiga kali musim tanam (MT) dengan hasil panen yang lebih optimal.

Koordinator Kelompok Petani Pemakai Air Desa Tlobo, Sugeng, mengatakan sebelum bendung dibangun, ketersediaan air menjadi persoalan utama, terutama saat musim kemarau.

"Kalau dulu sebelum ada bendung, petani hanya bisa dua musim tanam. Musim tanam ketiga tidak bisa panen karena kekurangan air. Setelah ada bendung ini, sekarang sudah bisa tiga musim tanam," ujarnya.

Menurut Sugeng, sebelum bendung beroperasi, petani bahkan harus bergiliran mengatur distribusi air irigasi setiap pekan agar seluruh lahan tetap mendapatkan pasokan air. Namun upaya tersebut tetap belum mampu mengatasi keterbatasan air pada musim kemarau.

Ia mengungkapkan, kondisi berbeda kini dirasakan petani. Pada bulan Juni hingga Juli, yang sebelumnya menjadi periode paling rawan kekeringan, aliran air kini tetap tersedia.

Biasanya bulan Juni dan Juli daerah bawah ini kering. Sekarang sudah ada limpasan air terus, jadi aliran air berkelanjutan," katanya.

Sugeng menyampaikan apresiasi kepada pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang telah membangun Bendung Jlantah sehingga harapan petani terhadap kepastian pasokan air dapat terwujud.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Balai Besar karena apa yang menjadi harapan masyarakat akhirnya bisa terpenuhi," tuturnya.

Meski demikian, Sugeng berharap pemerintah tidak berhenti pada pembangunan bendung utama. Ia meminta agar jaringan irigasi di bagian hilir juga mendapat perhatian karena masih terdapat dua bendung kecil yang mengalami kerusakan.

Menurutnya, kerusakan tersebut menghambat distribusi air ke lahan pertanian di wilayah bawah, sementara masyarakat tidak memiliki kemampuan anggaran untuk melakukan perbaikan secara mandiri.

Harapan kami kepada Balai Besar, bendung-bendung kecil yang rusak di bawah ini bisa segera diperbaiki. Masyarakat tentu tidak memiliki anggaran untuk memperbaikinya sendiri," ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Ariyanto

Tags

Rekomendasi

Terkini

X