“Jadi, memang ini adalah peluang bagi pemerintah. Saya kira ini harusnya bukan lagi menggerakkan sipil, tapi semua resources dikerahkan.”
Ia menegaskan, pemerintah pusat dapat mengambil alih pendanaan sementara agar daerah tidak lumpuh akibat keterbatasan anggaran.
“Bila perlu kita minta bantuan tetangga, nggak usah gengsi, nggak usah malu,” tegasnya.
Dampak Psikologis: Masyarakat Hopeless, Depresi, hingga Marah
Iqbal menyoroti sisi psikologis penyintas yang menurutnya sering luput dari perhatian pemerintah.
Ia mengingatkan bahwa penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik.
“Di mana mereka hopeless, mereka depresi, dan mungkin mereka stres. Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah,” tuturnya.
Ia menyebut kemarahan masyarakat dapat muncul apabila penanganan dinilai lambat, bahkan berpotensi memunculkan kembali sentimen negatif terhadap pejabat publik seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
“Jangan sampai nanti psikologis masyarakat yang marah di bulan Agustus itu kembali muncul,” ujarnya.
Menurut Iqbal, pemulihan psikologis harus menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam penanganan pascabanjir, bukan sekadar perbaikan materi dan infrastruktur.
Artikel Terkait
Minta Dukungan Presiden, Menkes Soroti Akses RS Belum Pulih dan Ancaman Kesehatan Ibu Hamil Pascabanjir
Intensitas Bencana Meningkat, DPR Usul Presiden Bentuk Kementerian yang Khusus Tanggulangi Musibah
Bibit Siklon 93W dan 91S Muncul Bersamaan, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sumatera hingga Sulawesi