Kartini dari Masa ke Masa: Perempuan, Perjuangan, dan Masa Depan Bangsa Oleh: Sangsabila Jamsin

Photo Author
Author SLT, Gertakberita.com
- Senin, 21 April 2025 | 16:30 WIB

Jakarta, -"Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu telah beberapa kali mendukung dan mendorong aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan."

– R.A. Kartini

Ketika Kartini menulis surat-suratnya lebih dari seabad yang lalu, ia belum pernah melihat gedung parlemen, belum pernah menginjakkan kaki di universitas, dan belum memiliki hak untuk memilih ataupun dipilih. Tapi dari balik dinding rumahnya di Jepara, ia melihat dunia. Ia membayangkan Indonesia di mana perempuan memiliki hak untuk berpikir, berbicara, dan menentukan arah hidupnya.

Kartini Masa Lalu adalah simbol keberanian. Dalam keterbatasan zaman, ia menantang norma, menulis tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan keadilan sosial. Ia tidak menuntut istimewa—ia hanya ingin setara. Dan dari tekad itulah, semangat emansipasi perempuan lahir dan tumbuh hingga hari ini.

Kartini Masa Kini tidak lagi dibatasi ruang. Ia ada di ruang sidang, memimpin sidang parlemen, mengepalai lembaga negara, menjadi pengusaha, ilmuwan, bahkan prajurit TNI. Berdasarkan data Kementerian PPPA, jumlah perempuan dalam posisi strategis terus meningkat. Tahun 2023, sebanyak 11 menteri perempuan pernah menjabat dalam kabinet Indonesia, dan lebih dari 8% kepala daerah adalah perempuan. Ini bukan pencapaian akhir, tapi bukti bahwa peluang itu nyata ketika diberikan ruang.

Namun perjuangan belum tuntas. Representasi perempuan di DPR RI masih 20,8%, di bawah target kuota 30%. Kekerasan berbasis gender, kesenjangan ekonomi, dan stereotip budaya masih menjadi tantangan besar. Perempuan masih harus membuktikan dirinya berkali-kali untuk mendapatkan pengakuan yang sama.

Kartini Masa Depan adalah harapan. Ia adalah anak-anak perempuan hari ini yang tumbuh dalam dunia digital, yang kritis, cerdas, dan tak takut bersuara. Ia adalah pemimpin masa depan yang tak lagi bertanya apakah perempuan bisa memimpin, tapi bagaimana kepemimpinan bisa lebih adil dan inklusif.

Tugas kita hari ini adalah menjembatani masa lalu dan masa depan. Menjaga api yang telah dinyalakan Kartini, agar tak padam di tengah arus zaman. Mendorong sistem pendidikan yang setara, menciptakan ruang kerja yang aman, serta mendukung perempuan untuk hadir di ruang-ruang strategis tanpa diskriminasi.

Karena bangsa yang besar bukan hanya mengenang pahlawannya—tetapi melanjutkan perjuangannya.

Selamat Hari Kartini.
Dari masa ke masa, perempuan Indonesia terus melangkah. Bukan untuk menggantikan siapa pun, tapi untuk berjalan bersama, membangun negeri yang lebih adil untuk semua.

(N/Tim).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Author SLT

Rekomendasi

Terkini

X