Jakarta, Gertak.id - Wafatnya Direktur Utama Bank BJB, Yusuf Saadudin, pada Jumat, 14 November 2025, kembali menyita perhatian publik. Yusuf, yang dilantik sebagai Dirut definitif pada April 2025, meninggal mendadak di Rumah Sakit Mayapada Bandung sekitar pukul 00.30 WIB.
Namun, lebih dari sepekan setelah kejadian, manajemen masih belum memberikan penjelasan rinci mengenai penyebab kematiannya.
Minimnya keterangan tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan, terlebih setelah beredar pemberitaan yang menyebut Yusuf sempat bermain golf sebelum kondisinya memburuk. Ketiadaan klarifikasi dinilai berpotensi memicu spekulasi, apalagi Yusuf merupakan pimpinan BUMD strategis milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Sorotan juga datang dari praktisi hukum sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Hukum UPN Veteran Jakarta, Beniharmoni Harefa.
Ia menegaskan pentingnya penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap seluruh fakta terkait wafatnya Yusuf.
“Kematian Dirut Bank BJB agar tidak menimbulkan pertanyaan dikalangan publik, harus diselidiki hingga tuntas,” ujar Harefa dikutip dari mediusnews.com pada Jumat, 21 November 2025.
Harefa menyampaikan rasa duka cita kepada keluarga almarhum namun menilai publik tetap berhak mengetahui kronologi lengkap peristiwa tersebut.
“Ini, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada keluarga almarhum, turut berdukacita yang mendalam,” ujarnya.
Ia juga menyoroti informasi yang dinilai belum jelas, termasuk kabar bahwa Yusuf berada di lapangan golf sebelum dilarikan ke rumah sakit. Menurutnya, penjelasan mengenai lokasi kejadian, pihak yang hadir, kondisi medis, serta keterangan saksi perlu diungkap agar tidak menimbulkan misteri berkepanjangan.
Selain itu, Harefa mengangkat pertanyaan lain terkait etika pejabat publik, yakni apakah aktivitas golf tersebut dilakukan di jam kerja. Ia menilai tindakan pimpinan perusahaan terbuka harus mencerminkan akuntabilitas, sehingga dugaan adanya insiden sebelum Yusuf dirawat harus diverifikasi secara resmi.
“Sehingga agar tidak menimbulkan pertanyaan terus menerus dan menjadi misteri maka harus dilakukan penyelidikan hingga tuntas,” tegasnya.
Minimnya pernyataan dari manajemen Bank BJB juga dikhawatirkan berdampak pada persepsi publik dan pemangku kepentingan. Sebagai perusahaan terbuka di pasar modal, transparansi dinilai sangat penting untuk menjaga kepercayaan.
Harefa menilai langkah penyelidikan justru akan membantu meredam spekulasi dan memulihkan keyakinan publik, tanpa bermaksud menuduh pihak mana pun.
Yusuf Saadudin dikenal memiliki rekam jejak panjang di Bank BJB. Lahir di Bandung pada 1973, ia menempuh pendidikan ekonomi serta meraih Magister Hukum Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Padjadjaran.