Gertak.id | Indramayu - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, seorang ibu di Desa Sukadana memprotes isi paket MBG yang diterimanya karena dinilai jauh dari kata layak. Dalam video yang beredar luas, terlihat menu hanya berisi roti, kacang, jeruk, dan agar-agar yang sudah berair.
Protes tersebut memantik pertanyaan serius: apakah menu seperti itu pantas disebut “bergizi” dan sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan pemerintah? Publik menilai komposisi makanan tersebut minim protein utama, tanpa lauk bernilai gizi tinggi, serta tidak mencerminkan standar asupan seimbang.
Sebagaimana diketahui, MBG berada di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional (BGN). Untuk satu porsi, dialokasikan anggaran Rp15 ribu. Dari jumlah itu, Rp5 ribu untuk operasional dan biaya pendukung lainnya, sementara Rp10 ribu diperuntukkan bagi bahan makanan. Untuk TK dan PAUD bahkan hanya sekitar Rp8 ribu per porsi.
Jika angka tersebut benar, maka publik berhak bertanya: bagaimana rincian penggunaan Rp10 ribu bahan makanan itu? Apakah ada standar minimal kandungan protein, kalori, dan kualitas bahan yang wajib dipenuhi? Ataukah pengawasan di tingkat pelaksana berjalan longgar?
Kritik juga mengarah pada transparansi distribusi dan kontrol kualitas. Program berskala nasional dengan anggaran besar seharusnya memiliki sistem pengawasan ketat agar tidak terjadi penurunan mutu di lapangan. Jika tidak, tujuan mulia meningkatkan gizi anak justru tereduksi menjadi formalitas pembagian makanan.
Lebih jauh, kasus ini membuka ruang evaluasi menyeluruh. Apakah mekanisme audit berjalan efektif? Siapa yang bertanggung jawab memastikan makanan sampai dalam kondisi layak konsumsi? Jangan sampai anggaran negara yang digelontorkan demi masa depan generasi muda justru menyisakan tanda tanya.
Hingga kini belum ada klarifikasi resmi terkait menu yang diprotes tersebut. Namun satu hal jelas, publik menuntut jawaban terbuka dan langkah tegas. Program gizi bukan sekadar angka dalam dokumen anggaran—ia menyangkut hak anak dan kelompok rentan untuk mendapatkan asupan yang benar-benar layak dan bermutu.