Gertak.id | NABIRE, 14 Februari 2026 – Pemuda pemerhati pengungsi asal Kabupaten Puncak, Dei Murib, menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya jumlah pengungsi dari wilayah Puncak yang kini berada di Nabire. Ia menilai, kondisi para pengungsi semakin memprihatinkan karena berbagai akses dasar seperti pendidikan, kesehatan, hingga administrasi kependudukan masih sangat terbatas.
Menurut Dei Murib, pengungsi yang datang mayoritas berasal dari Distrik Pogoma, Bina, dan Kemburu. Ia mengaku telah beberapa kali mengunjungi lokasi pengungsian dan berinteraksi langsung dengan para orang tua untuk mendengar kebutuhan mereka.
“Saya sangat sedih melihat kondisi adik-adik kita. Banyak yang belum memiliki akta kelahiran dan kartu keluarga, sehingga kesulitan mendaftar sekolah dan mengakses layanan kesehatan,” ujarnya.
Dei menyatakan kesiapannya membantu proses pengurusan dokumen dan akses layanan bagi para pengungsi. Namun, ia menegaskan perlunya dukungan dan rekomendasi resmi dari Pemerintah Kabupaten Puncak, khususnya Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Pendidikan, agar dapat berkolaborasi dengan sekolah dan rumah sakit di Nabire maupun wilayah sekitarnya.
Ia juga mendesak DPRD Kabupaten Puncak untuk tidak tinggal diam terhadap kondisi masyarakat yang tengah mengungsi. “DPRD harus bertanggung jawab mengurus rakyatnya yang saat ini kehilangan arah. Jangan terus diam,” tegasnya.
Selain itu, Dei Murib meminta Bupati Puncak segera membentuk tim khusus guna memastikan keberadaan dan kondisi para pengungsi, serta mengambil langkah konkret demi kemanusiaan.
Tak hanya itu, ia juga mengusulkan agar Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Puncak dapat membuka layanan sementara di Nabire dan Timika selama beberapa bulan, guna membantu pengurusan dokumen administrasi para pengungsi.
“Umur anak-anak ini terus berjalan. Jangan sampai mereka kehilangan hak untuk sekolah dan mendapatkan pelayanan kesehatan hanya karena persoalan administrasi,” pungkasnya.