Kapuas Hulu — Kisah lama tentang sulitnya akses pedalaman di Kecamatan Silat Hulu kembali mencuat setelah sebuah unggahan arsip tahun 2017 memperlihatkan warga Desa Na Lungu harus menempuh jalur sungai berarus deras untuk membawa anak-anak dan ibu-ibu menuju layanan dasar. Potret itu menggambarkan kondisi darurat yang dialami masyarakat saat itu, dan yang ironisnya, hingga kini belum mengalami perubahan berarti.
Dalam foto tersebut tampak warga berada di sebuah perahu kecil, berusaha menyelamatkan seorang anak dalam kondisi kritis karena akses jalan darat yang rusak parah dan tidak dapat dilalui kendaraan. Sejak bertahun-tahun lalu, jalur air menjadi satu-satunya alternatif, meski berisiko tinggi dan telah menelan banyak korban jiwa.
Warga menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan masalah prioritas pembangunan. Mereka mempertanyakan mengapa infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan pedalaman tak kunjung diperbaiki, sementara di pusat kabupaten berdiri kantor bupati dan gedung paroki yang megah dan mewah.
“Apakah ini yang disebut membangun dari pinggiran? Sementara wilayah paling pinggir justru dibiarkan terisolasi?” keluh sejumlah warga.
Menurut mereka, semangat pemerataan pembangunan tidak semestinya hanya tampak pada bangunan monumental, tetapi harus diwujudkan melalui perbaikan akses dasar yang menyentuh masyarakat pedalaman—akses yang menentukan keselamatan, ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan.
Hingga kini, jalan yang menghubungkan beberapa desa seperti Na Lungu, Nanga Ngeri, hingga Landau Badai masih rusak berat. Jembatan pun banyak yang lapuk atau ambruk, membuat warga terpaksa menempuh jeram dan arus sungai demi beraktivitas.
Warga mendesak pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten untuk segera turun tangan, berkoordinasi, dan memprioritaskan perbaikan infrastruktur dasar yang telah bertahun-tahun mereka perjuangkan.
“Tidak ada yang benar-benar berubah setelah kejadian itu. Duka itu tidak pernah hilang,” tulis keterangan dalam arsip 2017 tersebut—sebuah pengingat bahwa lambannya pembangunan telah menimbulkan luka panjang bagi masyarakat pedalaman.(Effendy)