Risiko tersebut diperburuk oleh penggunaan elektrolit cair organik yang sangat mudah terbakar.
Baterai Na-ion dianggap lebih aman karena menggunakan material katoda yang lebih stabil dan memiliki potensi elektrokimia yang lebih rendah dibanding lithium, sehingga lebih kecil kemungkinan mengalami kegagalan termal.
Namun tantangannya, baterai Na-ion memiliki kepadatan energi lebih rendah dan cenderung mengalami degradasi lebih cepat, sehingga masa pakainya lebih singkat.
Profesor dari Western University, Yang Zhao menyebut penelitian terbaru ini disebut mampu menjawab sebagian persoalan baterai EV dengan memanfaatkan fasilitas Canadian Light Source untuk menganalisis pergerakan ion dalam elektrolit solid yang mereka kembangkan.
"Kami mengganti elektrolit cair dalam baterai menjadi elektrolit solid-state yang tidak mudah terbakar," ujar Yang Zhao dalam sebuah video penjelasan, dikutip pada Senin, 28 September 2026.
BYD Dikabarkan Bangun Pabrik Baterai Sendiri
Berkaca dari hal itu, produsen mobil terbesar di Tiongkok, BYD juga mengalihkan fokusnya untuk menaklukkan pasar internasional, salah satunya dengan membangun pabrik baterai EV sendiri.
Saat ini, BYD baru saja menyelesaikan pembangunan pabrik pertamanya di Szeged, Hungaria, dan telah memulai tahap uji coba produksi.
Langkah strategis ini diungkapkan langsung oleh Alfredo Altavilla, mantan eksekutif Fiat Chrysler yang kini menjabat sebagai penasihat operasional BYD di Eropa.
Altavilla mengungkapkan, perusahaan asal Tiongkok tersebut berencana mendirikan 3 pabrik perakitan kendaraan serta satu fasilitas khusus yang difokuskan untuk merakit baterai EV.
"Dalam jangka panjang, kami akan membutuhkan 3 pabrik perakitan dan 1 pabrik baterai. Tentu saja, hal ini tidak bisa terwujud dalam sekejap mata," KATA Altavilla dikutip dari Reuters, pada Senin, 28 September 2026.
"Namun, sangat jelas bahwa untuk mencapai target volume penjualan yang kami tetapkan, sekaligus mematuhi regulasi ketat di Eropa, itulah fasilitas yang wajib kami miliki," tambahnya.***