BNPB Ungkap Jumlah Korban Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera, Tapanuli Tengah Paling Parah Terdampak

Photo Author
Redaksi Gertak, Gertakberita.com
- Sabtu, 29 November 2025 | 17:25 WIB
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto (tengah) menyampaikan beberapa perkembangan terkait penanganan bencana di Sumatera Utara. (Dok BNPB)
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto (tengah) menyampaikan beberapa perkembangan terkait penanganan bencana di Sumatera Utara. (Dok BNPB)

Gertak.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis laporan terbaru terkait bencana banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera bagian utara, yakni Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Bencana yang dipicu cuaca ekstrem tersebut menelan ratusan korban serta menyebabkan kerusakan luas di berbagai wilayah.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers pada Jumat, 28 November 2025, menyampaikan bahwa hingga petang hari, total korban meninggal dunia mencapai 116 orang, sementara 42 orang lainnya masih dalam pencarian oleh tim gabungan.

Pengaruh Dua Siklon: Senyar dan Koto Sebabkan Hujan Ekstrem

Suharyanto mengungkapkan bahwa bencana kali ini dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang tidak biasa. Dua siklon tropis, yakni Siklon Senyar dan Siklon Koto, memicu curah hujan sangat tinggi di wilayah Sumatera bagian utara.

“Diguyur hujan sangat lebat karena ada Siklon Senyar dan Siklon Koto. Ini fenomena alam yang jarang terjadi, tetapi saat ini muncul bersamaan di kawasan Sumatera bagian utara,” jelas Suharyanto.

Kombinasi dua siklon tersebut menyebabkan hujan berintensitas sangat tinggi selama beberapa hari, sehingga sejumlah sungai meluap dan memicu banjir bandang serta longsor di banyak titik.

Tapanuli Tengah Jadi Wilayah dengan Dampak Paling Berat

Dalam pemaparan lapangan, Suharyanto menegaskan bahwa Tapanuli Tengah tercatat sebagai wilayah dengan kerusakan dan korban terbanyak. Informasi awal sempat menyebutkan bahwa Kota Sibolga mengalami dampak paling berat. Namun setelah tim BNPB tiba di lokasi, kondisi di Tapanuli Tengah justru menunjukkan skala kerusakan yang jauh lebih serius.

“Berita awal itu Sibolga yang parah, ternyata setelah kita sampai di sini, Sibolga justru tidak terlalu parah. Yang paling parah adalah Tapanuli Tengah,” ujarnya.

Sejumlah kecamatan di Tapanuli Tengah mengalami kerusakan sangat berat. Rumah warga, fasilitas publik, jembatan, serta jalan penghubung banyak yang terputus karena diterjang banjir bandang. Tim gabungan dari BNPB, TNI, Polri, Basarnas hingga relawan terus melakukan evakuasi, membuka akses jalan, dan mencari korban yang masih hilang.

BNPB Aktifkan Starlink untuk Pulihkan Komunikasi

Kerusakan jaringan telekomunikasi di wilayah terdampak sempat menghambat koordinasi penanganan bencana. Untuk mengatasi hal tersebut, BNPB mengaktifkan jaringan komunikasi darurat berbasis Starlink di beberapa titik, termasuk posko pengungsian dan pusat komando lapangan.

“Langkah kami adalah memasang jalur komunikasi darurat menggunakan Starlink,” kata Suharyanto. “Perangkatnya sudah didistribusikan ke pemerintah daerah, titik pengungsian, dan satgas TNI di lapangan.”

Dengan jaringan ini, proses pertukaran informasi antara tim penyelamat, pemerintah daerah, dan pusat kendali BNPB dapat berjalan lebih cepat. Pengiriman data kondisi lapangan, kebutuhan logistik, hingga pergerakan tim evakuasi menjadi lebih terpantau.

Status Bencana Tetap di Tingkat Provinsi

Menjawab pertanyaan publik mengenai status bencana nasional, Suharyanto menegaskan bahwa peristiwa kali ini masih berada dalam kategori bencana daerah tingkat provinsi. Menurutnya, penetapan bencana nasional memiliki kriteria khusus dan tidak serta-merta diberlakukan meski korban dan kerusakan cukup besar.

“Yang pernah ditetapkan sebagai bencana nasional itu COVID-19. Untuk kejadian kali ini, statusnya masih bencana daerah tingkat provinsi,” tegasnya.

Meski demikian, Suharyanto memastikan bahwa seluruh sumber daya nasional tetap dikerahkan. Pemerintah pusat telah mengoordinasikan dukungan logistik, alat berat, tenaga medis, hingga personel tambahan untuk mempercepat penanganan.

Fokus Penanganan: Evakuasi, Pencarian, dan Distribusi Bantuan

Hingga kini, tim gabungan masih bekerja di lapangan untuk:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Yuliarto Mugi Widodo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X