“Jepang turun ke lapangan selama empat tahun, melakukan pengukuran dan survei. China mengambil hasil studi itu, mempelajarinya, lalu membuat proposal dari proposal. Itu bukan penelitian empiris,” jelas Sulfikar, dosen Nanyang Technological University (NTU), Singapura.
Ia mengatakan bahwa lemahnya kajian lapangan menjadi salah satu penyebab terjadinya pembengkakan biaya atau cost overrun yang kini membayangi proyek Whoosh.
Artikel Terkait
Hasto Kristiyanto Kritik Proyek Kereta Cepat Whoosh, Sebut Megawati Kerap Pertanyakan Urgensi Pembangunan
Di Tengah Polemik Utang Kereta Cepat Whoosh, AHY Sebut Pemerintah Punya Ambisi Perluas Jalur hingga Banyuwangi
Akademisi Ungkap Hasil Studi Jepang soal Proyek Kereta Cepat, Sebut Lebih Efektif Dibanding Realisasi Whoosh Saat Ini
Akademisi Ungkap Hasil Studi Jepang soal Proyek Kereta Cepat, Sebut Lebih Efektif Dibanding Realisasi Whoosh Saat Ini