Gertak.id | Indramayu - Krisis air bersih di Indramayu berubah dari sekadar keluhan publik menjadi dugaan skandal serius. Fakta terbaru mengungkap sesuatu yang lebih mengkhawatirkan: masyarakat diduga dijadikan “kelinci percobaan” penggunaan bahan kimia baru yang belum teruji oleh Perumdam Tirta Darma Ayu (TDA).
Dalih keruhnya air baku dari Sungai Cimanuk kini dianggap tak lagi relevan. Sorotan tajam beralih ke dalam tubuh perusahaan—ke keputusan yang diduga ceroboh, tertutup, dan berisiko tinggi.
Pengakuan Mengguncang: Dirtek Tak Tahu, Siapa yang Mainkan?
Pernyataan dari Jojo Sutarjo menjadi titik ledak. Ia mengakui bahan kimia baru menjadi penyebab kekeruhan air—namun yang lebih menggemparkan, ia tidak dilibatkan sama sekali dalam pengadaannya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan telak:
➡️ Siapa yang memutuskan penggunaan bahan kimia?
➡️ Atas dasar apa bahan itu dipakai tanpa uji teknis matang?
➡️ Apakah prosedur dilanggar?
Ketika pejabat teknis justru “dibutakan”, maka publik berhak curiga:
apakah ada keputusan yang sengaja disembunyikan?
DPRD Naik Pitam: “Ini Sudah Mengarah ke Skandal!”
Anggota Komisi III DPRD Indramayu, Tatang Sutardi, secara terang-terangan menyebut persoalan ini sebagai indikasi kegagalan serius yang bisa berujung skandal.
“Ini bukan sekadar kelalaian. Ini sudah mengarah pada skandal pelayanan publik. Harus diusut lewat Pansus,” tegasnya.
Sebagai mantan Dirut PDAM, Tatang menilai kondisi ini menunjukkan hilangnya kendali manajemen, bahkan berpotensi membuka ruang keputusan sepihak yang membahayakan masyarakat.
Fakta Lapangan: Air Mati, Keruh, dan Tak Layak Pakai
Dalam kunjungan kerja yang dipimpin Suhendri ke Cabang Jatibarang, terkuak kondisi nyata:
Air keruh mengalir ke pelanggan