IFG Gandeng Financial Services Development Council Hong Kong Perkuat Tata Kelola Investasi melalui Sosialisasi Asset Liability Management

Photo Author
Selamet Riyadi, Gertakberita.com
- Rabu, 18 Februari 2026 | 17:04 WIB

Gertak.id – Indonesia Financial Group (IFG) terus memperkuat tata kelola pengelolaan aset dan kewajiban melalui penyelenggaraan sharing session bertajuk “Bridging Financial Centres: Pathways in Insurance and Capital Markets”. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen IFG dalam memperkuat praktik Asset Liability Management (ALM) yang prudent dan berkelanjutan.

Forum tersebut menghadirkan Rocky Tung, Executive Director Financial Services Development Council Hong Kong, serta diikuti oleh jajaran manajemen IFG dan perwakilan seluruh anggota holding.

Dalam forum ini, ALM ditegaskan sebagai fondasi utama keberlanjutan industri asuransi dan dana pensiun. Penerapan ALM dilakukan melalui pendekatan siklus Plan, Do, Check, Action (PDCA), yang mencakup proses pengumpulan data, analisis, pelaporan, hingga perumusan strategi pengelolaan aset dan kewajiban secara terintegrasi.

Tujuan utama dari penerapan ALM adalah meminimalkan risiko, memperkuat tata kelola investasi, serta memastikan perlindungan optimal terhadap dana nasabah yang dikelola perusahaan.

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji, menegaskan bahwa berbagai tantangan yang dihadapi industri asuransi dan dana pensiun di Indonesia kerap berakar dari praktik pengelolaan aset dan liabilitas yang belum sepenuhnya prudent.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara kewajiban perusahaan dengan ketersediaan aset, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kemampuan perusahaan dalam memenuhi komitmen kepada pemegang polis.

“Prioritas utama perusahaan asuransi dan dana pensiun adalah memastikan dana nasabah tetap aman. Pengelolaan aset dan liabilitas yang disiplin menjadi kunci dalam menjaga tingkat kesehatan perusahaan sekaligus keberlanjutan industri,” ujar Denny.

Ia menambahkan, praktik ALM yang tidak prudent berisiko menurunkan tingkat kesehatan perusahaan asuransi maupun dana pensiun. Oleh karena itu, penerapan pendekatan Liability Driven Investment (LDI) menjadi elemen penting dalam optimalisasi ALM.

Pendekatan LDI menyesuaikan strategi investasi dengan profil liabilitas dalam kerangka risk appetite yang telah ditetapkan, sehingga mampu meminimalkan potensi mismatch antara aset dan kewajiban. Secara umum, kerangka LDI mencakup tiga komponen utama, yakni Liability Profile Analysis, Liability Hedge Portfolio, serta Return Seeking Portfolio.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengelola risiko secara terukur sekaligus tetap mengejar imbal hasil investasi yang sejalan dengan rencana bisnis jangka panjang.

Dalam paparannya, Rocky Tung menekankan bahwa pengelolaan aset dan kewajiban yang efektif merupakan prasyarat utama dalam menjaga stabilitas keuangan.

“Pengelolaan aset dan kewajiban yang efektif sangat krusial untuk menjaga kesehatan dan stabilitas keuangan suatu entitas. Kerangka ALM yang komprehensif dalam industri asuransi berfokus pada stabilitas dan profitabilitas jangka panjang dengan menjaga likuiditas, mengelola kualitas kredit, serta memastikan ketersediaan modal operasional yang memadai,” jelasnya.

Ia juga menyoroti peran ALM dalam menjaga solvabilitas perusahaan, mengidentifikasi serta memitigasi risiko utama seperti risiko suku bunga, likuiditas, dan risiko pasar, sekaligus mengoptimalkan imbal hasil berbasis risiko melalui diversifikasi dan penyesuaian durasi aset dan liabilitas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Selamet Riyadi

Rekomendasi

Terkini

X