daerah

DIDUGA KURIR J&T TAK AMANAH? PAKET TAK PERNAH SAMPAI, STATUS MALAH “DITOLAK PEMBELI”

Sabtu, 3 Oktober 2026 | 18:27 WIB

Gertak.id | INDRAMAYU — Dugaan kejanggalan dalam proses pengiriman paket kembali mencuat. Konsumen J&T mengaku paket yang ditunggu tidak pernah sampai ke rumah, namun sistem justru mencatat pesanan dengan keterangan “ditolak pembeli”.

Persoalan tersebut menjadi sorotan karena konsumen yang disebut menolak paket justru mengaku tidak pernah bertemu kurir, tidak pernah menerima paket, dan tidak pernah menyatakan menolak pengiriman.

Keluhan ini disampaikan Tiara, konsumen yang mengaku berulang kali mendapatkan laporan pesanan ditolak pembeli. Ia mempertanyakan bagaimana status tersebut bisa muncul apabila proses pengantaran ke rumahnya tidak pernah terjadi.

“Saya selalu mendapatkan laporan pesanan ditolak pembeli. Sedangkan saya sendiri tidak pernah merasa ada kurir datang. Harusnya kalau kurir yang benar itu ketuk pintu, permisi ada paket, atau memanggil penghuni rumah. Ini sama sekali tidak ada,” tegas Tiara.

Menurut Tiara, jika memang konsumen menolak paket, semestinya ada peristiwa nyata yang mendahuluinya: kurir datang ke alamat, bertemu penerima atau penghuni rumah, kemudian penerima menyatakan menolak. Namun dalam kasus yang dialaminya, rangkaian tersebut disebut tidak pernah terjadi.

“Kalau saya memang menolak, kapan saya menolak? Siapa yang datang? Saya tidak pernah merasa ada kurir datang ke rumah,” ujarnya.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terhadap akurasi laporan pengiriman. Apakah paket benar-benar telah diantar ke alamat tujuan, atau status “ditolak pembeli” muncul tanpa adanya komunikasi langsung dengan penerima? Jawaban atas pertanyaan tersebut kini berada pada hasil pemeriksaan internal J&T.

Pihak gudang J&T di samping Pasar Baru ketika dikonfirmasi tidak langsung membenarkan maupun membantah keluhan tersebut. Kepala gudang menyatakan akan menelusuri persoalan tersebut kepada kurir yang menangani pengiriman.

“Nanti kami cek ke kurirnya,” ujar kepala gudang J&T.

Pernyataan tersebut membuka ruang bagi J&T untuk membuktikan secara terang kronologi pengiriman. Pemeriksaan idealnya mencakup data pelacakan paket, waktu dan lokasi pengantaran, upaya komunikasi dengan penerima, serta dasar pencatatan status “ditolak pembeli.”

Sebab, apabila konsumen benar-benar tidak pernah didatangi, tetapi paket kemudian dicatat sebagai ditolak, persoalan tersebut bukan lagi sekadar soal keterlambatan. Keakuratan informasi dalam sistem pengiriman menjadi pertanyaan yang harus dijawab.

Sebaliknya, apabila kurir memiliki bukti telah mendatangi alamat dan penerima memang menolak paket, bukti tersebut juga perlu dijelaskan kepada konsumen agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.

Tiara meminta pihak J&T tidak sekadar memeriksa kurir, tetapi memberikan jawaban konkret mengenai apa yang sebenarnya terjadi terhadap paketnya.

“Saya tidak meminta apa-apa. Saya hanya ingin paket saya diantar dengan benar. Kalau memang datang, ketuk pintu, panggil penghuni rumah, atau hubungi saya. Jangan tiba-tiba muncul laporan ditolak pembeli, padahal kurirnya tidak pernah datang,” katanya.

Halaman:

Terkini