KAPUAS HULU — Di tengah musim kemarau yang berlangsung panjang, masyarakat Desa Perjuk, Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tetap menjaga warisan leluhur melalui tradisi Nuba.
Bagi masyarakat setempat, Nuba bukan sekadar kegiatan yang berkaitan dengan sungai dan hasil perairan. Tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya, sekaligus ruang untuk mempererat persaudaraan, menjaga adat istiadat, serta menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
Warisan leluhur yang terus dijaga
Desa Perjuk merupakan salah satu desa di Kecamatan Silat Hulu yang memiliki kehidupan masyarakat yang erat dengan alam sekitarnya.
Wilayah adat masyarakat setempat mencakup berbagai ruang kehidupan, seperti lahan pertanian, tembawang, kebun karet, kawasan pemakaman, hingga hutan adat. Kondisi tersebut menunjukkan eratnya hubungan masyarakat dengan lingkungan yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Sungai dan wilayah perairan tidak hanya menjadi bagian dari sumber kehidupan, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya. Tradisi Nuba menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang mencerminkan hubungan tersebut.
Dilaksanakan dengan semangat gotong royong
Pelaksanaan Nuba dilakukan secara bersama-sama. Warga berkumpul dan berbagi peran sesuai dengan tata cara yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Semangat gotong royong menjadi salah satu nilai penting dalam tradisi tersebut. Warga tidak hanya berkumpul untuk mendapatkan hasil dari sungai, tetapi juga memanfaatkan momentum itu untuk berkomunikasi, mempererat hubungan kekeluargaan, dan menjaga kebersamaan.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat menggunakan bahan alami yang telah dikenal secara turun-temurun sesuai tata cara adat setempat. Salah satunya adalah tuba cabut atau akar tuba, dengan penyebutan yang mengikuti istilah lokal masyarakat Desa Perjuk.
Kemarau menjadi momentum mempererat kebersamaan
Musim kemarau panjang menyebabkan kondisi sejumlah sungai mengalami perubahan. Namun, keadaan tersebut tidak menghilangkan semangat masyarakat untuk mempertahankan tradisi.
Nuba justru menjadi momentum bagi warga untuk kembali berkumpul dan menjaga ikatan sosial di tengah perubahan kondisi alam.
Bagi masyarakat, makna Nuba tidak semata-mata terletak pada hasil yang diperoleh. Lebih dari itu, tradisi tersebut mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur.
Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman yang membuat berbagai tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap dikenal dan dipahami oleh generasi muda.