daerah

Mahasiswi Unesa Nyaris Gagal Beasiswa Gegara Desil, Armuji Soroti Akurasi Data: Jangan Sampai Data Mengalahkan Kondisi Riil Warga

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:11 WIB

Gertak.id | SURABAYA – Perbedaan data kesejahteraan kembali menjadi sorotan setelah seorang mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengaku nyaris gagal mendapatkan beasiswa karena persoalan kategori desil.

Mahasiswi semester 3, Diandrea Fristi Esfandiari Zulkarnain, sebelumnya mengungkap kesulitannya mendaftar Beasiswa BeSMART. Secara akademik, persyaratan telah dipenuhi. Bahkan pada semester pertama, ia mengaku mampu meraih IPK 4,00. Namun, persoalan muncul ketika data desil pada sistem beasiswa justru menunjukkan dirinya berada di kategori desil 6–10.

Padahal, saat mengecek data melalui layanan Cek Bansos, Diandrea mengaku tercatat dalam desil 2, yang sesuai dengan persyaratan penerima bantuan.

“Awalnya KIP-K Unesa tidak bisa menerima mandiri, jadi akhirnya saya cari beasiswa BeSMART. Pada semester 1 IPK saya 4, saya berharap saya keterima, tapi ternyata enggak,” ujar Diandrea dalam video yang diunggah Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, melalui akun Instagramnya, @cakj1, Kamis (20/8/2026).

Tak menyerah, Diandrea kembali mencoba mendaftar pada semester berikutnya. Saat melakukan pengecekan, ia kembali menemukan persoalan pada data desil.

“Saya cek dulu di Cek Bansos, desil saya 2, sesuai syarat. Cuma di web BeSMART tiba-tiba desilnya jadi 6–10. Saya bingung harus bagaimana,” ungkapnya.

Persoalan tersebut akhirnya mendapat perhatian Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, yang mendatangi Diandrea untuk melihat langsung kondisi yang dialaminya.

Dalam pertemuan tersebut, terungkap adanya perbedaan pencatatan data. Bahkan, perangkat desa yang ikut mendampingi menyebut Diandrea sebelumnya tercatat sebagai warga desil 6, sebelum dilakukan pengajuan sanggahan dan kemudian berubah menjadi desil 2.

Yang lebih mengejutkan, Diandrea disebut pernah tercatat sebagai karyawati, meski pada kenyataannya masih berstatus sebagai pelajar/mahasiswi.

“Sebelumnya Diandrea itu terdaftarnya karyawati, padahal masih sekolah,” ungkap salah seorang perangkat desa.

Bagi Diandrea, persoalan tersebut bukan sekadar perbedaan angka dalam sistem. Beasiswa sangat berarti untuk keberlangsungan kuliahnya. Ia bahkan mengaku harus berupaya mencari tambahan biaya dengan membuat dan menjual gantungan kunci kerajinan tangan.

“Bayar UKT Rp4 juta dari meminjam sama hasil uang jualan saya sedikit. Jualan gantungan kunci kerajinan tangan,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat persoalan akurasi data desil menjadi semakin krusial. Sebab, kesalahan pencatatan berpotensi membuat masyarakat yang sebenarnya membutuhkan justru kesulitan mengakses program bantuan pendidikan maupun bantuan sosial.

Armuji pun menyoroti pentingnya pendataan yang tidak hanya mengandalkan angka di dalam sistem, tetapi harus dikonfirmasi dengan kondisi nyata masyarakat di lapangan.

Halaman:

Terkini