GERTAK.ID, LEBAK - Masyarakat Adat Kasepuhan Jamrut, Desa Wangunjaya, Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak, kembali menggelar tradisi tahunan Seren Taun Kasepuhan Jamrut Tahun 2026 sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen sekaligus komitmen menjaga kelestarian adat, budaya, dan warisan leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan yang berlangsung pada 5 hingga 9 Juni 2026 tersebut mengusung tema “Eling ka Gusti, Rumaksa ka Bumi, Sauyunan Ngajadi”, yang memiliki makna mengingat kepada Tuhan, menjaga bumi, serta membangun kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Tema tersebut mencerminkan filosofi hidup masyarakat adat yang senantiasa menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta.
Tradisi Seren Taun merupakan salah satu ritual adat sakral yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kasepuhan di wilayah Banten Selatan. Melalui tradisi ini, masyarakat menyerahkan hasil panen padi ke lumbung adat sebagai simbol rasa syukur atas berkah dan hasil bumi yang diperoleh selama satu musim tanam.
Dalam pelaksanaan Seren Taun Kasepuhan Jamrut Tahun 2026, peran sentral dipegang oleh para pemangku adat, yakni Olot Santari dan Olot Marja, yang selama ini menjadi penjaga nilai-nilai adat dan tradisi leluhur di wilayah tersebut.
Tidak hanya menjadi ritual adat, Seren Taun juga menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan masyarakat adat, pemerintah, tokoh budaya, akademisi, hingga para pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Nusantara. Berbagai rangkaian acara mulai dari ritual adat, doa bersama, pertunjukan seni tradisional, hingga kegiatan budaya lainnya akan turut memeriahkan perhelatan tersebut.
Sekretaris Kecamatan Cigemblong, Yudi Rosmiadi, S.Pd., M.A., menyambut baik pelaksanaan Seren Taun Kasepuhan Jamrut yang dinilainya sebagai bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Kabupaten Lebak.
"Seren Taun bukan hanya milik masyarakat adat, tetapi menjadi kekayaan budaya Kabupaten Lebak yang harus dijaga dan dilestarikan bersama. Tradisi ini mengajarkan nilai gotong royong, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam," ujar Yudi.
Menurutnya, pemerintah kecamatan mendukung penuh pelaksanaan kegiatan tersebut karena memiliki nilai edukatif sekaligus potensi untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
"Kami berharap Seren Taun Kasepuhan Jamrut dapat terus berkembang menjadi agenda budaya yang mampu memperkuat persatuan masyarakat sekaligus mendorong pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman," tambahnya.
Dukungan serupa disampaikan Sekretaris Desa Wangunjaya, Sarkowi, yang menyebut bahwa masyarakat desa sangat antusias menyambut pelaksanaan Seren Taun tahun ini.
"Persiapan sudah dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Antusiasme warga sangat tinggi karena Seren Taun merupakan tradisi yang selalu dinantikan setiap tahunnya," kata Sarkowi.
Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat ikatan sosial masyarakat, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya adat kepada generasi muda.
"Kami berharap generasi muda dapat terus mengenal, mencintai, dan melanjutkan warisan budaya leluhur sehingga nilai-nilai adat tetap hidup di masa yang akan datang," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang tokoh adat Kasepuhan Jamrut mengatakan bahwa Seren Taun merupakan amanah leluhur yang harus terus dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat adat.