daerah

Keluarga Almarhum Kayus Telenggen Minta Penyelesaian Adat Segera Dituntaskan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 19:00 WIB

gertak.id-Nabire-Pihak keluarga almarhum Kayus Telenggen menyampaikan sikap tegas terkait proses penyelesaian adat atas kasus kecelakaan yang melibatkan pihak suku Wolani/Moni di Kabupaten Intan Jaya beberapa waktu lalu.

Keluarga korban menegaskan bahwa proses perdamaian adat antara pihak keluarga suku Nduga asal Kabupaten Puncak dan pihak Wolani telah memiliki kesepakatan bersama mengenai batas waktu penyelesaian.

Dalam pernyataannya, pihak keluarga menyebutkan bahwa penyerahan bentuk kasih atau denda adat telah disepakati paling lambat dilakukan pada 24 Juni 2026.

Menurut keluarga korban, hingga saat ini belum terdapat koordinasi maupun informasi yang jelas terkait perkembangan penyelesaian dari pihak Wolani.

Kondisi tersebut dinilai menimbulkan kekhawatiran karena dikhawatirkan dapat mempengaruhi komitmen perdamaian yang sebelumnya telah dibangun bersama.

“Kami meminta pihak Wolani agar tidak bersikap santai dan segera mengambil langkah serius untuk menyelesaikan persoalan ini secara adat dan damai,” ujar perwakilan keluarga korban.

Pihak keluarga menegaskan bahwa bentuk kasih atau denda adat yang dimaksud bukanlah praktik “bayar kepala”, melainkan bagian dari mekanisme adat untuk menjaga hubungan baik antarsuku.

Selain itu, penyelesaian adat juga dinilai penting untuk menghentikan potensi konflik lanjutan maupun aksi balas dendam yang dapat merugikan kedua belah pihak.

Keluarga korban menyatakan bahwa apabila dana atau bentuk penyelesaian adat telah siap sebelum tenggat waktu, maka penyerahan dapat segera dilakukan demi menjaga situasi tetap aman dan kondusif.

Dalam keterangannya, keluarga juga meminta Pemerintah Kabupaten Intan Jaya agar ikut berperan aktif dalam proses penyelesaian tersebut.

Pemerintah daerah diharapkan dapat hadir sebagai penengah serta membantu membangun komunikasi antara kedua pihak demi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

“Kami berharap pemerintah serius menanggapi persoalan ini dan membantu penyelesaian secara damai demi keamanan masyarakat,” lanjut perwakilan keluarga.

Meski menyampaikan sikap tegas, pihak keluarga korban menegaskan bahwa mereka masih membuka ruang perdamaian dan penyelesaian secara adat.

Menurut mereka, perdamaian jauh lebih penting dibandingkan konflik berkepanjangan yang dapat menimbulkan korban baru di tengah masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini