daerah

Viral Dugaan Juri Berat Sebelah di LCC MPR RI 2026, Influencer Salsa Erwina Soroti Perjuangan Siswa SMAN 1 Pontianak

Selasa, 12 Mei 2026 | 12:09 WIB
Polemik LCC MPR RI 2026 di Kalbar, Salsa Erwina Kritik Dugaan Penilaian Juri yang Tak Konsisten./Dok.(YouTube.com / MPR RI - Instagram.com/@salsaer)

GERTAK.ID, KALIMANTAN BARAT - Video yang memperlihatkan dugaan penilaian juri yang dinilai tidak konsisten dalam ajang Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat menjadi perhatian publik di media sosial.

Dalam rekaman yang beredar, salah satu peserta dari SMAN 1 Pontianak menyampaikan protes kepada dewan juri setelah timnya mendapat pengurangan poin, meski jawaban yang disampaikan disebut sama dengan peserta lain.

Situasi itu semakin menjadi sorotan ketika dewan juri menjelaskan bahwa perbedaan penilaian dipengaruhi artikulasi peserta yang dianggap kurang jelas saat menjawab pertanyaan.

Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan publik setelah siaran perlombaan itu tayang melalui akun YouTube MPR RI pada Minggu, 10 Mei 2026. Sejumlah warganet kemudian ikut menyoroti keputusan dewan juri dalam perlombaan tingkat provinsi tersebut.

Influencer Salsa Erwina Hutagalung menjadi salah satu pihak yang turut menanggapi insiden itu. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @salsaer, Salsa mengaku menerima cerita langsung dari para siswa SMAN 1 Pontianak terkait kejadian yang mereka alami saat perlombaan berlangsung.

"Dihubungi langsung sama adik-adik dari SMAN 1 Pontianak, cerita tentang kejadian ini sambil takut-takut," ungkap Salsa dalam unggahannya pada Selasa, 12 Mei 2026.

Salsa menilai para siswa telah melalui proses panjang dan pengorbanan besar sebelum mencapai babak final kompetisi tersebut. Karena itu, ia menyayangkan jika persoalan teknis justru menjadi polemik dalam penilaian.

"Usahanya luar biasa, menghapal siang-malam. Mereka sudah berkorban banyak untuk mencapai tingkat final seperti ini," bebernya.

Profesional muda Indonesia yang kini menetap di Aarhus, Denmark itu juga menyoroti mekanisme penilaian dalam perlombaan yang menurutnya memunculkan pertanyaan publik terkait aspek meritokrasi.

"Saat mencapai puncak, bukan meritokrasi yang diperlombakan tapi malah kualitas mendengar juri," tambahnya.

Dalam unggahan yang sama, Salsa turut mengapresiasi keberanian para siswa yang tetap menyampaikan keberatan mereka secara langsung di hadapan dewan juri dan penonton.

"Yang kerennya lagi, adik-adik ini berani protes walaupun di atas panggung banyak penonton," tuturnya.

"Bersuara melawan juri yang 'kompeten', tidak main-main kritisnya generasi ini," sambung Salsa.

Aktivis sekaligus kreator konten tersebut juga menyebut keberanian para siswa dalam menyampaikan pendapat mendapat perhatian dan dukungan masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini